pusat latihan bubut di Tangerang Selatan Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung pusat latihan bubut di Tangerang Selatan

pusat latihan bubut di Tangerang Selatan Mesin CNC sekarang banyak digunakan dalam industri permesinan pusat latihan bubut di Tangerang Selatan untuk memproduksi komponen dengan tingkat kerumitan dan presisi yang tinggi. Selain itu, mesin CNC mempunyai konsistensi yang lebih efektif untuk pengerjaan dalam jumlah banyak. Penggunaan mesin konvensional dalam proses pemotongan, pengeboran dan proses permesinan lainnya, tentu saja memberikan hasil yang tidak presisi dan memerlukan waktu cukup lama dikarenakan hasil produksi akan tergantung dari kemampuan operator dalam melakukan proses tersebut. Banyak produk-produk yang dihasilkan dengan mesin CNC ini, mulai dari peralatan rumah tangga, pusat latihan bubut di Tangerang Selatan kendaraan bermotor sampai pesawat terbang sekalipun menggunakan teknologi ini. pusat latihan bubut di Tangerang Selatan

pusat latihan bubut di Tangerang Selatan

saco-indonesia.com, Obat Radang Tenggorokan Tradisional Paling Ampuh. Pernahkah anda merasakan rasa sakit pada tenggorokan, hal

saco-indonesia.com, Obat Radang Tenggorokan Tradisional Paling Ampuh. Pernahkah anda merasakan rasa sakit pada tenggorokan, hal ini telah menandakan adanya penyakit pada saluran pernafasan dan salah satu penyebabnya adalah radang tenggorokan. Radang tenggorokan juga sudah tentu sangat menganggu karena sangat terasa tidak nyaman, terlebih jika dibiarkan maka penyakit ini bisa menjadi penyakit yang serius. untuk itu disini saya akan memberikan cara membuat obat radang tenggorokan tradisional dengan bahan alami dan tradisional.

Obat Radang Tenggorokan

Radang tenggorokan ini juga bisa disebabkan oleh virus atau bakteri, disebabkan karena daya tahan yang lemah. Radang tenggorokan ini pada umumnya telah disebabkan oleh bakteri streptococcus. Kondisi ini telah menyebabkan tenggorokan mengalami iritasi, peradangan, suara serak, batuk, gatal dan terasa sakit saat menelan.

Ada beberapa gejala dan tanda tanda umum ketika orang mengalami radang tenggorokan, berikut adalah gejala radang tenggorokan.

Gejala Radang Tenggorokan

    Sakit kepala

    Ruam

    Badan terasa lelah

    Ada bintik-bintik merah kecil di bagian belakang atap mulut

    Kesulitan menelan, bahkan air liur sekalipun

    Kelenjar getah bening pada leher membengkak

    Tenggorokan terasa sakit

    Amandel membengkak dan berwarna merah. Terkadang ada bercak putih dan lapisan nanah pada amandel

    Demam tinggi, biasanya lebih dari 38,3 derajat Celcius (101 derajat Fahrenheit)

    Perut terasa sakit dan terkadang disertai dengan muntah


Nah diatas adalah gejala umum dari radang tenggorokan, jika anda mengalami gejala diatas ada kemungkinan anda sedang mengalami radang tenggorokan, lantas bagaiaman cara mengobatinya? berikut adalah obat radang tenggorokan tradisional yang terbukti ampuh.

Obat Radang Tenggorokan

1. Menghirup Uap Panas
Menghirup uap juga dapat mengobati radang tenggorokan. Caranya cukup mudah, taruh air panas dalam panci lalu letakkan di depan Anda. Pakailah handuk di kepala untuk mencegah uap menyebar. Hirup uap dari panci tak hanya melalui hidung tapi sesekali juga melalui mulut.


2. Campuran Madu dan Lemon
Cara membuatnya cukup mudah campurkan secangkir air hangat dengan 1 sendok makan lemon dan 1 sendok makan madu. campuran ini ampuh untuk dapat mengobati radang tenggorokan. namun jika anda kesulitan untuk mencari lemon anda bisa menggunakan satu sendok madu tanpa campuran air.


3. Daun Kemangi
Rebus daun kemangi dan minumlah air rebusannya. Atau cukup berkumur dengan air rebusan kemangi akan membuat sakit tenggorokan Anda membaik.


4. Teh jahe
Anda juga bisa menambahkan satu inci potong jahe yang telah dimemarkan kemudian rebus selama dua hingga menit. Lalu, campur dengan teh yang telah Anda buat sebelumnya.


5. Campuran Kunyit, Air, dan Garam
Ini adalah obat rumahan yang sangat efektif untuk dapat menghilangkan rasa sakit pada tenggorokan. Ditambah lagi, bahan-bahan yang diperlukan sangat mudah untuk dicari. Campurkan satu sendok teh garam dan sejumput kunyit dengan 200 ml air hangat kemudian berkumurlah beberapa kali sehari.


6. Bawang Putih
Bawang putih mengandung senyawa yang bernama allicin yang juga merupakan agen pembunuh bakteri. cobalah mengunyah bawang putih agar mengeluarkan senyawa allicin demi mengatasi radang tenggorokan.


7. Jus Buah Belimbing
Buah belimbing telah memiliki khasiat sebagai anti-radang yang bisa digunakan untuk dapat mengobati radang tenggorokan. Caranya ambil 100 gram buah belimbing manis, lalu dibuat jus dan diminum.

Nah demikianlah beberapa obat radang tenggorokan tradisional yang bisa dengan mudah anda buat. dan apabila anda atau keluarga mengalami radang tenggorokan, cobalah membuat obat radang tenggorokan dari bahan diatas. Semoga bermanfaat, Salam.


Editor : Dian sukmawati
sumber : Dropfamous.blogspot.com

Julia Perez akan menghirup udara bebas pada 17 Juni mendatang. Setelah bebas, pelantun 'Belah Duren' itu siap untuk mengganti namanya. Jadi apa ya? Saat berbincang-bincang dengan detikHot di Rutan Pondok Bambu, Selasa (21/5/2013), perempuan yang akrab disapa Jupe itu mengaku akan mengganti namanya dengan nama Julia Riche. "Julia Riche, aku terinspirasi dari komik kesukaanku 'Richie Rich'. Rich kan kaya, jadi nama sekaligus doa," ujar pemilik nama asli Yuli Rachmawati seraya tertawa.

Julia Perez akan menghirup udara bebas pada 17 Juni mendatang. Setelah bebas, pelantun 'Belah Duren' itu siap untuk mengganti namanya. Jadi apa ya?

Saat berbincang-bincang dengan detikHot di Rutan Pondok Bambu, Selasa (21/5/2013), perempuan yang akrab disapa Jupe itu mengaku akan mengganti namanya dengan nama Julia Riche.

"Julia Riche, aku terinspirasi dari komik kesukaanku 'Richie Rich'. Rich kan kaya, jadi nama sekaligus doa," ujar pemilik nama asli Yuli Rachmawati seraya tertawa.

Jupe sebenarnya punya alasan tersendiri kenapa dirinya mau mengganti namanya itu. Jupe ingin melepas nama Perez untuk menghormati sang kekasih, Gaston Castano. Jupe diketahui mendapat nama Perez dari suaminya dulu, Damien Perez.

"Aku kan harus menghormatinya, sebenarnya sudah lama pengen ganti tapi baru nemu nama itu sekarang. Selama ini dia (Gaston) diam saja, tapi aku tahu dia sebenarnya tidak suka," tuturnya.

Selain mengganti nama, Jupe berniat untuk menyuguhkan imejnya yang baru dan lebih fresh. Untuk mewujudkan keinginannya itu, ia berkolaborasi dengan desainer ternama.

"Kalau yang ini, nanti saja ya. Biar kejutan, pokoknya beda banget deh," singkat bintang film 'Gending Sriwijaya' itu.

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

Judge Patterson helped to protect the rights of Attica inmates after the prison riot in 1971 and later served on the Federal District Court in Manhattan.

Artikel lainnya »