pelatihan pemrograman cnc di Cimahi Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung pelatihan pemrograman cnc di Cimahi

pelatihan pemrograman cnc di Cimahi Mesin CNC sekarang banyak digunakan dalam industri permesinan pelatihan pemrograman cnc di Cimahi untuk memproduksi komponen dengan tingkat kerumitan dan presisi yang tinggi. Selain itu, mesin CNC mempunyai konsistensi yang lebih efektif untuk pengerjaan dalam jumlah banyak. Penggunaan mesin konvensional dalam proses pemotongan, pengeboran dan proses permesinan lainnya, tentu saja memberikan hasil yang tidak presisi dan memerlukan waktu cukup lama dikarenakan hasil produksi akan tergantung dari kemampuan operator dalam melakukan proses tersebut. Banyak produk-produk yang dihasilkan dengan mesin CNC ini, mulai dari peralatan rumah tangga, pelatihan pemrograman cnc di Cimahi kendaraan bermotor sampai pesawat terbang sekalipun menggunakan teknologi ini. pelatihan pemrograman cnc di Cimahi

pelatihan pemrograman cnc di Cimahi

Cara Memilih Jasa kirim Barang Murah dan Cepat, Maraknya transaksi online memicu peningkatan penggunaan jasa kirim barang, tanpa

Cara Memilih Jasa kirim Barang Murah dan Cepat, Maraknya transaksi online memicu peningkatan penggunaan jasa kirim barang, tanpa terkecuali jasa kirim barang internasional. Hal ini telah dibuktikan dengan banyak bermunculan bisnis jasa kirim barang yang menawarkan sejumlah fasilitas dan keuntungan.

Ada beberapa tips yang bisa anda perhatikan saat memilih menggunakan jasa kiriman yang di antaranya:

1.     Survei
Anda bisa melakukan survei dengan datang langsung ke jasa kirim barang/ekspedisi yang akan anda gunakan.

2.      Kredibilitas dan Usia Perusahaan
Perusahaan apa saja perusahaan yang telah menggunakan jasa tersebut. Pastikan anda kirim barang ke ekspedisi memiliki track record yang baik dan telah dipercaya oleh banyak orang. Selain itu, lihat juga usia perusahaan tersebut, kredibilitas perusahaan biasanya berbanding lurus dengan usianya

3.     Pastikan Pelayanannya Benar-Benar Professional
Pastikan perusahaan ekspedisi tersebut memiliki resi atau nota yang jelas, pengepakan yang baik, pengiriman tepat waktu, surat izin usaha dan tentunya juga harus memiliki system pengecekan nomor nomor resi atau nota (tracking) yang baik untuk pengecekan status kirim barang dalam transaksi online anda

4.     Biaya Pengiriman Perlu Dipertimbangkan
Miliki informasi yang jelas mengenai standar biaya pengiriman untuk paket yang anda akan kirim. Jangan tergiur dengan tarif pengiriman murah, sebaiknya pentingkan keselamatan barang

5.     Cek Garansi dan Asuransinya
Ini adalah hal yang agak sulit, namun beberapa jasa layanan barang yang professional memberikan garansi dan keamanan tingkat tinggi pada barang yang akan Anda kirimkan.

6.     Jangan Pernah Membuang Resi atau Nota Pengiriman Sebelum Barang Sampai Ke Alamat
Resi ini nantinya bermanfaat untuk mengklaim jika ada barang yang rusak, terlambat, atau tidak sampai ke alamat

7.     Jika meragukan, dapat lakukan percobaan pengiriman dalam quantity/nilai value yang kecil.
Banyak jasa pengiriman yang baik dalam pelayanan maupun ekonomis dalam harganya. Namun demikian anda sedikit ragu untuk menggunakannya, terlebih jika perusahaan tersebut tergolong baru atau belum pernah anda dengar sebelumnya. Anda bisa coba jasa tersebut dengan mengirimkan paket dengan quantity/nilai value yang kecil terlebih dahulu. Jika paket kecil tersebut dapat terkirim dengan baik maka anda boleh mencoba dengan mengirimkan paket yang lebih besar.

 

saco-indonesia.com, Sindikat pencurian kendaraan bermotor (curanmor) telah dibongkar Satuan Reskrim Polres Sukabumi Kota. Dalam

saco-indonesia.com, Sindikat pencurian kendaraan bermotor (curanmor) telah dibongkar Satuan Reskrim Polres Sukabumi Kota. Dalam pengungkapan kasus ini, polisi telah mengamankan belasan tersangka, seorang di antaranya oknum Anggota TNI yang berperan sebagai penadah sekaligus dalang curanmor. Untuk dapat melumpuhkan komplotan curanmor ini, petugas terpaksa harus mengeluarkan timah panas dan menembus paha salah seorang tersangka.

Dari tangan tersangka, polisi telah berhasil mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya puluhan kendaraan bermotor , uang jutaan rupiah dan berbagai jenis kunci leter T. Kini, belasan tersangka telah mendekam di hotel predeo Mapolres Sukabumi Kota untuk dapat mempetanggungjawabkan perbuatannya.

Pengungkapan ini juga merupakan hasil pengembangan dan penyelidikan Satreskrim Polres Sukabumi Kota. Dari hasil penyelidikan telah diketahui tempat berkumpulnya pelaku spesialis pencurian sepeda bermotor yang terletak di Desa Cimanggu Kecamatan Cikembang kabupaten Sukabumi yang dikendalikan oleh salah seorang oknum anggota TNI.

Di lokasi tersebut, polisi telah mengamankan 11 orang. Pada saat ditangkap, mereka juga sempat melawan hingga petugas terpaksa harus melumpuhkan salah seorang tersangka dengan timah panas mengenai paha sebelah kanan.

Rincian barang bukti yakni 20 unit sepeda motor berbagai merk, uang puluhan juta rupiah dari hasil penjualan dan puluhan plat nomor serta alat-alat lainnya untuk dapat melancarkan aksinya.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi Kota AKP Sulaeman telah membenarkan adanya penggerebekan yang dilakukan satuan reskrim Sukabumi Kota terhadap sindikan pencurian kendaraan bermotor yang sudah lama menjadi incaran dan target sasaran.

“Kami juga telah menangkap dan mengamankan sedikitnya 11 orang pelaku yang terlibat pencurian sepeda motor. Saat ini para pelaku juga sedang menjalani pemeriksaan untuk kepentingan pengembanga. Soalnya disinyalir masih ada para pelaku yang belum kami tangkap, Dari belasan yang kami tangkap ada oknum anggota TNI yang diduga sebagai otak pelaku sekaligus penadah sepeda bermotor hasil curian,” ungkapnya.

Akibat perbuatannya, tersangka terancam dijerat dengan pasal pasal 363 tentang pencurian dengan pemberatan dan pasal 365 tentang pencurian dengan kekerasan dengan ancaman hukuman maksimal limat tahun kurungan penjara.


Editor : Dian Sukmawati

The 6-foot-10 Phillips played alongside the 6-11 Rick Robey on the Wildcats team that won the 1978 N.C.A.A. men’s basketball title.

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

Artikel lainnya »