jasa kursus mesinbubut di Jakarta Timur Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung jasa kursus mesinbubut di Jakarta Timur

jasa kursus mesinbubut di Jakarta Timur Mesin CNC sekarang banyak digunakan dalam industri permesinan jasa kursus mesinbubut di Jakarta Timur untuk memproduksi komponen dengan tingkat kerumitan dan presisi yang tinggi. Selain itu, mesin CNC mempunyai konsistensi yang lebih efektif untuk pengerjaan dalam jumlah banyak. Penggunaan mesin konvensional dalam proses pemotongan, pengeboran dan proses permesinan lainnya, tentu saja memberikan hasil yang tidak presisi dan memerlukan waktu cukup lama dikarenakan hasil produksi akan tergantung dari kemampuan operator dalam melakukan proses tersebut. Banyak produk-produk yang dihasilkan dengan mesin CNC ini, mulai dari peralatan rumah tangga, jasa kursus mesinbubut di Jakarta Timur kendaraan bermotor sampai pesawat terbang sekalipun menggunakan teknologi ini. jasa kursus mesinbubut di Jakarta Timur

jasa kursus mesinbubut di Jakarta Timur

MAKKAH–Pemerintah Arab Saudi tetap menolak permohonan Indonesia untuk tidak menggunakan perluasan wilayah Mina (Mina Jadid

MAKKAH–Pemerintah Arab Saudi tetap menolak permohonan Indonesia untuk tidak menggunakan perluasan wilayah Mina (Mina Jadid) . Pemerintah Kerajaan Arab Saudi memutuskan bahwa Mina Jadid tetap digunakan sebagai tempat mabit (bermalam) bagi sebagian jamaah asal Indonesia.
”Permintaan Indonesia untuk tak menggunakan Mina Jadid  ditolak oleh Pemerintah Arab Saudi. Kami sendiri tak diberitahu alasan penolakan tersebut,” kata Kepala PPIH Daerah Kerja Madinah, Akhmad Jauhari, Sabtu (5/10), dikutip dari Media Center Haji (MCH).
“Dari total 48 maktab yang disediakan untuk Indonesia, 8 maktab di antaranya berada di wilayah Mina Jadid. Artinya, 8 × 3.250 orang, itulah total jamaah asal Indonesia yang akan mabit di Mina Jadid” kata Jauhari.
Jauhari menambahkan, pada tahun ini kapasitas setiap maktab mengalami penggemukan. Hal itu mengakibatkan adanya rekonfigurasi penomoran maktab jamaah haji Indonesia di Mina. ”Jumlah maktabnya tetap 48. Namun, kapasitas setiap maktab bertambah, dari semula 2.800 orang menjadi 3.250 orang,” ujarnya.
Dengan adanya rekonfigurasi, kata dia, penomoran maktab tidak lagi berurut dari 1 sampai dengan 48 maktab. Karena penambahan kapasitas, distribusi jamaah dalam satu maktab akan ‘memakan’ jatah maktab berikutnya. ”Di Mina itu, areal maktab tak berubah bahkan sudah dipagari. Kapasitasnya pun tetap untuk 2.800 orang. Akibatnya, ada beberapa nomor maktab yang hilang,” ucapnya.
Jauhari mencontohkan, sebagian jamaah yang bermukim di maktab 1 akan tinggal di perkemahan yang sebenarnya sudah masuk ke maktab 2, demikian seterusnya.
Oleh karena itu, nanti, ada nomor maktab yang ’hilang’ karena lokasinya sudah penuh. Maktab-maktab inilah yang kemudian berubah, tidak lagi sesuai dengan hasil qur’ah (undian). ”Totalnya, terdapat 15 maktab yang berubah,

Sumber : http://saharakafila.com

Baca Artikel Lainnya : MEKAH DI KUNJUNGGI JEMAAH HAJI DARI BERBAGAI BELAHAN DUNIA

Pada awal kehidaupan manusia, sampah belum menjadi masalah, tetapi dangan bertambahnya penduduk di mana ruang tetap, semakin hari maslahnya semakin besar. Hal ini jelas bila kita melihat moderenissasi kehidupan, perkembangan teknologi, sehingga meningkatkan aktivitas manusia. Sehubungan dengaan kegiatan manusia, maka permasalahan sampah akan berkaitan baik dari segi social ekonomi maup...

 

            Pada awal kehidaupan manusia, sampah belum menjadi masalah, tetapi dangan bertambahnya penduduk di mana ruang tetap, semakin hari maslahnya semakin besar. Hal ini jelas bila kita melihat moderenissasi kehidupan, perkembangan teknologi, sehingga meningkatkan aktivitas manusia. Sehubungan dengaan kegiatan manusia, maka permasalahan sampah akan berkaitan baik dari segi social ekonomi maupun budaya.
            Kesehatan seorang maupun masyarakat merupakan masalah social yang selalu berkaitan antara komponen-komponen yang ada dalam masyarakat. Sampah bila dapat diamankan tidak menjadi potensi yang berpengaruh terhadap lingkungan. Namun demikian sebagaimana telah diutarakan di atas, bahwa sampah yang dikelola tidak berada pada tempat yang menjamin keamanan lingkungan, sehingga mempunyai dampak terhadap kesehatan lingkungan. Sampah yang tidak dikelola dengan baik ini akan menjadi bermacam-macam fungsinya, Antara lain :
1.      Sebagai sarana penularana penyakit. Hal ini timbbul karena sampah basah (garbage) dapat menjadi tempat bersarangnya  dan berkembangbiaknya dari bermacam-macam Vektor penularan penyakit. Vektor yang dimaksud adalah: lalat, Kecoak, nyamuk, dan tikus.
·         Kebiasaan lalat: Lalat biasa hidup di tempat-tempat yang kotor dan tertarik akan bau yang busuk. Benda-benda yang ber bau busuk juga merupakan makanan lalat. Sampah, terutama sampah basah, cepat berbau busuk, sehingga merupakan tempat berkembangbiak dan tempat makanan lalat.
·         Kebiasaan kecoak: Kecoak senang tinggal di tempat-tempat yang lembab, berbau, dan keadaan gelap. Tumpukan sampah yang lembab, berbau, dan terdapat banyak celah-celah yang gelap merupakan tempat berkembang biaknya kecoak. Lalat  dan kecoak merupakan vector penularan penyakit saluran pencernaan (perut) seperti: diseentri, basiller, disentri amoeba, cholera, typhus abdominalis, diare karena bakteri, dsb.
·         Kebiasaan nyamuk: Nyamuk khususnya nyamuk aedes dan culex suka bersarang pada genangan air. Sampah dari barang- barang seperti kaleng, kantong plastic, pecahan gelas/botol menjadi tempat genagan air jika hujan turun, tempat ini sangat disenangi nyamuk aedes sebagai tempat ber kembangnya. Nyamuk merupakan vector penularan penyakit demam berdarah, kaki gajah, dan malaria.
·         Kebiasaan tikus: Tikus umumnya suka bersarang pada tempat yang banyak makanan, tempat-tempat yag lembab, dan celah-celaj yang gelap sebagai tempat persembunyiannya. Sampah basah masih banyak mengandung sisa makanan, agak lembab, dan terdapat celah-celah untuk bersembunyi edari ancama musuh tikus. Oleh karenanya tikus suka bersarang di tempat pembuangan sampah. Tikus merupakan vector penularan pes.
2.      Di samping penularan penyakit infeksi saluran pencernaan, di dalam tumpukan sampah basah kadang-kadang mengandung telur cacing. Apabila sampah basah ini diberikan untuk pakan ternak seperti babi tanpa dimasak terlebih dahulu, maka babi tersebut dapat terjangkit penyakit cacingan misalnya Trichinosis, penyababnya adalah cacing Trichinella spiralis. Jika daging babi tersebut tidak sempurna memasaknya kemudian dikonsumsi oleh manusia, maka manusia pun dapat terjangkit penyakit cacing Trichinella.
3.      Dari sampah juga juga dapat menjadi penyabab penyakit lain seperti penyakit kulit dan jamur.
4.      Kemudian selain itu, dampak dari pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat keamanan lingkungan dan kesehatan, misalnya membuang sampah secara sembarangan akan mengakibatkan pencemaran lingkungan meliputi pencemaran tanah, air, dan udara. Sampah-sampah yang dibuang sebagian besar merupakan sampah organic. Bahan-bahan organic ini mengalami pembusukan secara biologis oleh jasad-jasad renik/mikroba yang bersifat aerobic. Selain itu juga terjadi proses pembusukan sampah organic berlangsung secara anaerobic yang berlangsung lama dan akhirnya akan dapat menghasilkan humus yang sangat berguna untuk penyuburran tanah dan perbaikan kondisi tanah. Namun dampak negatifnya lebih banyak, di mana:
·         Sampah-sampah plastic, pecahan kaca, karet, dan bahan-bahan yang sukar membusuk akan mencemari tanah sehingga dalam waktu lama tidak dapat ditanami lagi (lahan kritis).
·         Hasil proses pembusukan sampah oleh jasad renik menghasilkan gas-gas seperti: CO2, H2S, CH4, dan NH3, maka udara tercemar oleh gas-gas tersebut dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Disamping itu, jika ada sampah yang terbakar maka asap-asap yang mengepul ke udara mencemari udara kaena adanya gas CO2 danCO.
·         Air rembesan hasil dari proses pembusukan saampah akan mengalami perporasi yang mengandung bahan terlarut yang dapat berbahaya untuk kesehatan, dapat mencemari air tanah, serta badab-badan air yang berada dekat dengan tempat pembuangan akhir sampah apabila tidak dilakukan pengawasan yang baik.
      5. Hasil pembusukan sampah dapt juga menggangu keseimbangan ekosistem, terjadinya              &nb sp;              penyuburan pada badan-badan air karena menerima nutrien-nutrien hasil pembusukan sampah memungkinkan terjadinya ledakan populasi tumbuhan air seperti eceng gondok dan akan mengganggu biota lain.
 
 
source : http://hizbussalam.blogspot.com

Ms. Crough played the youngest daughter on the hit ’70s sitcom starring David Cassidy and Shirley Jones.

As he reflected on the festering wounds deepened by race and grievance that have been on painful display in America’s cities lately, President Obama on Monday found himself thinking about a young man he had just met named Malachi.

A few minutes before, in a closed-door round-table discussion at Lehman College in the Bronx, Mr. Obama had asked a group of black and Hispanic students from disadvantaged backgrounds what could be done to help them reach their goals. Several talked about counseling and guidance programs.

“Malachi, he just talked about — we should talk about love,” Mr. Obama told a crowd afterward, drifting away from his prepared remarks. “Because Malachi and I shared the fact that our dad wasn’t around and that sometimes we wondered why he wasn’t around and what had happened. But really, that’s what this comes down to is: Do we love these kids?”

Many presidents have governed during times of racial tension, but Mr. Obama is the first to see in the mirror a face that looks like those on the other side of history’s ledger. While his first term was consumed with the economy, war and health care, his second keeps coming back to the societal divide that was not bridged by his election. A president who eschewed focusing on race now seems to have found his voice again as he thinks about how to use his remaining time in office and beyond.

Continue reading the main story Video
Play Video|1:17

Obama Speaks of a ‘Sense of Unfairness’

Obama Speaks of a ‘Sense of Unfairness’

At an event announcing the creation of a nonprofit focusing on young minority men, President Obama talked about the underlying reasons for recent protests in Baltimore and other cities.

By Associated Press on Publish Date May 4, 2015. Photo by Stephen Crowley/The New York Times.

In the aftermath of racially charged unrest in places like Baltimore, Ferguson, Mo., and New York, Mr. Obama came to the Bronx on Monday for the announcement of a new nonprofit organization that is being spun off from his White House initiative called My Brother’s Keeper. Staked by more than $80 million in commitments from corporations and other donors, the new group, My Brother’s Keeper Alliance, will in effect provide the nucleus for Mr. Obama’s post-presidency, which will begin in January 2017.

“This will remain a mission for me and for Michelle not just for the rest of my presidency but for the rest of my life,” Mr. Obama said. “And the reason is simple,” he added. Referring to some of the youths he had just met, he said: “We see ourselves in these young men. I grew up without a dad. I grew up lost sometimes and adrift, not having a sense of a clear path. The only difference between me and a lot of other young men in this neighborhood and all across the country is that I grew up in an environment that was a little more forgiving.”

Advertisement

Organizers said the new alliance already had financial pledges from companies like American Express, Deloitte, Discovery Communications and News Corporation. The money will be used to help companies address obstacles facing young black and Hispanic men, provide grants to programs for disadvantaged youths, and help communities aid their populations.

Joe Echevarria, a former chief executive of Deloitte, the accounting and consulting firm, will lead the alliance, and among those on its leadership team or advisory group are executives at PepsiCo, News Corporation, Sprint, BET and Prudential Group Insurance; former Secretary of State Colin L. Powell; Senator Cory Booker, Democrat of New Jersey; former Attorney General Eric H. Holder Jr.; the music star John Legend; the retired athletes Alonzo Mourning, Jerome Bettis and Shaquille O’Neal; and the mayors of Indianapolis, Sacramento and Philadelphia.

The alliance, while nominally independent of the White House, may face some of the same questions confronting former Secretary of State Hillary Rodham Clinton as she begins another presidential campaign. Some of those donating to the alliance may have interests in government action, and skeptics may wonder whether they are trying to curry favor with the president by contributing.

“The Obama administration will have no role in deciding how donations are screened and what criteria they’ll set at the alliance for donor policies, because it’s an entirely separate entity,” Josh Earnest, the White House press secretary, told reporters on Air Force One en route to New York. But he added, “I’m confident that the members of the board are well aware of the president’s commitment to transparency.”

The alliance was in the works before the disturbances last week after the death of Freddie Gray, the black man who suffered fatal injuries while in police custody in Baltimore, but it reflected the evolution of Mr. Obama’s presidency. For him, in a way, it is coming back to issues that animated him as a young community organizer and politician. It was his own struggle with race and identity, captured in his youthful memoir, “Dreams From My Father,” that stood him apart from other presidential aspirants.

But that was a side of him that he kept largely to himself through the first years of his presidency while he focused on other priorities like turning the economy around, expanding government-subsidized health care and avoiding electoral land mines en route to re-election.

After securing a second term, Mr. Obama appeared more emboldened. Just a month after his 2013 inauguration, he talked passionately about opportunity and race with a group of teenage boys in Chicago, a moment aides point to as perhaps the first time he had spoken about these issues in such a personal, powerful way as president. A few months later, he publicly lamented the death of Trayvon Martin, a black Florida teenager, saying that “could have been me 35 years ago.”

Photo
 
President Obama on Monday with Darinel Montero, a student at Bronx International High School who introduced him before remarks at Lehman College in the Bronx. Credit Stephen Crowley/The New York Times

That case, along with public ruptures of anger over police shootings in Ferguson and elsewhere, have pushed the issue of race and law enforcement onto the public agenda. Aides said they imagined that with his presidency in its final stages, Mr. Obama might be thinking more about what comes next and causes he can advance as a private citizen.

That is not to say that his public discussion of these issues has been universally welcomed. Some conservatives said he had made matters worse by seeming in their view to blame police officers in some of the disputed cases.

“President Obama, when he was elected, could have been a unifying leader,” Senator Ted Cruz of Texas, a Republican candidate for president, said at a forum last week. “He has made decisions that I think have inflamed racial tensions.”

On the other side of the ideological spectrum, some liberal African-American activists have complained that Mr. Obama has not done enough to help downtrodden communities. While he is speaking out more, these critics argue, he has hardly used the power of the presidency to make the sort of radical change they say is necessary.

The line Mr. Obama has tried to straddle has been a serrated one. He condemns police brutality as he defends most officers as honorable. He condemns “criminals and thugs” who looted in Baltimore while expressing empathy with those trapped in a cycle of poverty and hopelessness.

In the Bronx on Monday, Mr. Obama bemoaned the death of Brian Moore, a plainclothes New York police officer who had died earlier in the day after being shot in the head Saturday on a Queens street. Most police officers are “good and honest and fair and care deeply about their communities,” even as they put their lives on the line, Mr. Obama said.

“Which is why in addressing the issues in Baltimore or Ferguson or New York, the point I made was that if we’re just looking at policing, we’re looking at it too narrowly,” he added. “If we ask the police to simply contain and control problems that we ourselves have been unwilling to invest and solve, that’s not fair to the communities, it’s not fair to the police.”

Moreover, if society writes off some people, he said, “that’s not the kind of country I want to live in; that’s not what America is about.”

His message to young men like Malachi Hernandez, who attends Boston Latin Academy in Massachusetts, is not to give up.

“I want you to know you matter,” he said. “You matter to us.”

Artikel lainnya »