info bubut di Jakarta Selatan Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung info bubut di Jakarta Selatan

info bubut di Jakarta Selatan Mesin CNC sekarang banyak digunakan dalam industri permesinan info bubut di Jakarta Selatan untuk memproduksi komponen dengan tingkat kerumitan dan presisi yang tinggi. Selain itu, mesin CNC mempunyai konsistensi yang lebih efektif untuk pengerjaan dalam jumlah banyak. Penggunaan mesin konvensional dalam proses pemotongan, pengeboran dan proses permesinan lainnya, tentu saja memberikan hasil yang tidak presisi dan memerlukan waktu cukup lama dikarenakan hasil produksi akan tergantung dari kemampuan operator dalam melakukan proses tersebut. Banyak produk-produk yang dihasilkan dengan mesin CNC ini, mulai dari peralatan rumah tangga, info bubut di Jakarta Selatan kendaraan bermotor sampai pesawat terbang sekalipun menggunakan teknologi ini. info bubut di Jakarta Selatan

info bubut di Jakarta Selatan

Saco-Indonesia.com — Dari sebuah kasus kecelakaan lalu lintas di Karawaci, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (29/1/2014), membuka tabir kasus perencanaan pembunuhan dan perampokan warga Kota Bogor, Jawa Barat.

Kepolisian Resor Bogor Kota menahan tiga warga Pandeglang, Banten, yakni DRD (15), DR (23), dan SA (19), sebagai tersangka kasus percobaan pembunuhan dan perampokan Nur Taufik (23), warga Kota Bogor.

DRD, siswa SMA di Pandeglang, adalah kekasih Nur dan adik dari DR. SA adalah teman DR yang diajak oleh kakak beradik itu menghabisi Nur di Lapangan Sempur, Kota Bogor, Rabu malam. Selanjutnya, pada malam itu juga mereka hendak membuang jasad korban ke Serang, Banten.

Kasus ini bermula dari perkenalan, komunikasi, dan percintaan antara DRD dan Nur. Keduanya sudah menjalin hubungan asmara sejak dua bulan lalu. Selama berpacaran, DRD dan Nur melangkah terlalu jauh. Mereka sudah beberapa kali berhubungan layaknya suami-istri.

Namun, menurut DRD, saat jumpa pers di Polres Bogor Kota, Rabu (5/2/2014), hubungan seks itu karena desakan dan ancaman Nur. Didesak dan diancam tetapi mencintai kekasih, DRD terpaksa memenuhi permintaan Nur.

Karena sudah menyerahkan kehormatan tetapi merasa masa depan cintanya tidak jelas, DRD khawatir bakal dicampakkan oleh Nur. Kekhawatiran itu mendorong sang remaja mengadu kepada DR. Tidak terima sang adik dipaksa melayani kebutuhan seks Nur, DR marah. Kakak beradik itu lalu sepakat membunuh Nur. DR kemudian mengajak SA berkomplot.

”Sebenarnya saya tidak tega, tetapi Abang sangat marah dan tidak bisa saya cegah,” kata DRD tertunduk.

Eksekusi

Pada Rabu malam minggu lalu, DRD, DR, dan SA melaksanakan rencana pembunuhan itu. Mereka pun pergi ke Bogor untuk menghabisi Nur. Di Kota Bogor, mereka berpisah agar Nur lengah. Memang kedatangan ketiganya diketahui Nur. Namun, untuk memberi kesempatan kepada DRD dan Nur berduaan, DR dan SA memilih berjalan-jalan ke tempat lain terlebih dahulu.

Di Kota Bogor, DRD menghubungi Nur dan meminta dijemput di Terminal Baranangsiang. Nur datang dengan mobil Toyota Yaris putih F 1566 HH.

DRD kemudian meminta Nur berkeliling terlebih dahulu menikmati suasana Kota Bogor. Selanjutnya, DRD bilang agar Nur menjemput DR dan SA yang juga datang dari Pandeglang ke Bogor. DR dan SA minta dijemput di Lapangan Sempur.

Tanpa curiga, Nur menyanggupi permintaan sang pacar. Mereka menjemput DR dan SA. Saat bertemu dengan Nur, DR melontarkan kemarahannya. DR memaki-maki Nur karena telah memaksa DRD untuk berhubungan seks.

Saat itulah, DR dan SA menganiaya Nur. DR menikam Nur dengan pisau yang sudah disiapkan sejak dari Pandeglang. Akibat ditikam di leher, Nur roboh, terluka, dan tidak bergerak.

Ketiganya menyangka korban sudah tewas sebab tidak ada reaksi apa pun. Kemudian, DR dan SA mengikat, mengangkat, dan menaruh korban di bagasi mobil. Lalu, ketiga pelaku berkendara ke arah Serang, Banten, untuk membuang jasad Nur.

Dalam perjalanan, di Karawaci, mobil yang dikendarai DRD itu menabrak tewas pengendara sepeda motor.

Kasatreskrim Polres Bogor Kota Ajun Komisaris Candra Sasongko mengatakan, kecelakaan itulah yang kemudian membuka tabir kasus penganiayaan dan perampokan Nur oleh ketiga tersangka. Karena terlibat kecelakaan di lokasi yang agak ramai, mobil itu dicegat dan ditahan oleh massa yang kemudian menghubungi petugas.

Petugas datang, mengecek mobil, dan terkejut melihat lelaki terikat dan bersimbah darah di bagasi mobil itu. Petugas menangkap dan membawa DRD, DR, dan SA ke kantor polisi untuk diperiksa. Ketiga pelaku mengakui perbuatan mereka, yaitu telah menganiaya korban, bahkan hendak membuang korban ke Serang, Banten. Nur kini dirawat di RS PMI Bogor.

Ketiga tersangka terancam hukuman paling kurang tujuh tahun penjara.

Sumber :kompas.com

Editor : Maulana Lee

Saco-Indonesia.com - Penderita kanker di negara ini mendapat beban vonis dua kali.

Saco-Indonesia.com - Penderita kanker di negara ini mendapat beban vonis dua kali. Selain usia dipastikan berakhir oleh dokter saat stadium mencapai tahap lanjut, vonis kedua adalah mahalnya ongkos harus dikeluarkan untuk obatnya.

Ambil contoh harga sorafenib, zat kimia penting bagi penderita kanker hati atau ginjal supaya perkembangan sel jahat berkurang. Seorang pasien butuh hingga Rp 50-an juta menebus obat itu buat konsumsi rutin sebulan.

Itu di luar biaya kemoterapi Rp 2-6 juta sekali sesi. Tak salah bila Yayasan Kanker Indonesia melansir kira-kira satu penderita butuh biaya Rp 102 juta per bulan untuk mempertahankan hidupnya.

Komponen obat jadi salah satu paling membebani. Hal itu dibenarkan oleh Marius Widjajarta, dokter masuk tim perumus harga obat Kementerian Kesehatan. "Obat riset itu mencakup 20 persen dari yang beredar di pasaran. Rata-rata memang untuk penyakit-penyakit berat, kanker, HIV, flu burung, dan semacamnya. Harganya mahal karena ada paten yang harus dibayarkan pada perusahaan sebagai penemunya," ujarnya kepada merdeka.com awal bulan ini.

Akan tetapi kondisi ini bukannya tanpa jalan keluar. Khususnya supaya harga obat lebih terjangkau bagi penderita penyakit kronis. Akar dari mahalnya obat paten adalah Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS). Ini beleid perlindungan hak paten produsen obat hasil riset wajib dipatuhi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Hal itu disampaikan pengamat isu kesehatan dari lembaga swadaya Indonesia for Global Justice, Rachmi Hertanti. Dia meyakini beban ongkos paten menjerat itu masih bisa dilobi pemerintah.

Itu berkaca pada artikel nomor 31 dari ketentuan WTO mengenai TRIPS. "Setiap anggota bebas menggunakan metode sesuai dalam mengimplementasikan ketentuan terdapat dalam perjanjian sesuai ketentuan hukum mereka miliki."

"Artinya suatu negara dibolehkan memproduksi atau mengimpor obat dari pihak ketiga, tidak harus dari pemegang paten, jika ada suatu situasi-situasi yang dianggap darurat," ujar Rachmi. "Sehingga harganya bisa jadi lebih murah."

Pemerintah bukannya tidak mengetahui celah hukum itu. Terbukti pada Oktober 2012, Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan keputusan presiden mengesampingkan paten dari tujuh obat HIV/AIDS dan hepatitis C dimiliki oleh Merck & Co, GlaxoSmithKline, Bristol-Myers Squibb, Abbott, dan Gilead.

Dampaknya segera dirasakan pasien karena harga obat paten langsung menjadi lebih murah. Contohnya beban belanja lopinavir dan ritonavir dibutuhkan penderita HIV memperpanjang hidupnya menjadi tak sampai Rp 100 ribu buat kebutuhan sebulan.

Rachmi menyatakan pemerintah bisa mengupayakan harga obat paten lain diturunkan meniru kebijakan buat penderita HIV. "Penyakit kanker atau jantung, sebenarnya hampir 70 persen dari penyebab kematian di negara kita, butuh kebijakan serupa," tuturnya.

Apalagi negara di kawasan sudah menjalankan negosiasi TRIPS. Ambil contoh Thailand pada 2008 menerbitkan lisensi mengabaikan paten buat beberapa jenis obat kanker. Hasilnya, harga docetaxel dan letrozol turun 24 kali lipat dari harga normal. Negeri Gajah Putih ini juga mengabaikan paten buat clopidogrel biasa dikonsumsi penderita kanker paru sehingga harganya turun 91 persen dari pasaran.

India lebih agresif lagi mengabaikan paten. Data Organisasi kemanusiaan medis internasional Medecins Sans Frontieres/Dokter Lintas Batas (MSF) menunjukkan negara itu mengabaikan paten atas sorafenib. Obat kanker itu dari awalnya seharga hampir Rp 50 juta, turun drastis menjadi hanya Rp 1,7 jutaan.

Negeri Sungai Gangga, melalui Mahkamah Agung , memaksa perusahaan obat Bayer asal Jerman pada 2012 melepas hak eksklusif paten atas bermacam obat kanker.

"Thailand dan India nyatanya berani, ini perkara kemauan politik saja," kata Rachmi menegaskan.

Masalahnya, pemerintah akhir tahun lalu justru memperlemah daya saing industri farmasi lokal melalui revisi Daftar Negatif Investasi (DNI) untuk sektor farmasi. Perusahaan luar tadinya hanya boleh menguasai 75 persen saham, kini diperbesar jatahnya menjadi 85 persen.

Situasi ini akan membuat mereka semakin dominan dibanding pabrik obat lokal. Sebab, 24 perusahaan asing beroperasi di Indonesia menguasai 80 persen pasar obat paten.

Rachmi mengingatkan kesuksesan India dan Thailand disokong oleh kesiapan farmasi lokalnya memproduksi obat tersebut. Artinya, tanpa ada industri dalam negeri kuat, pengabaian TRIPS jadi percuma. "Kalau asing semakin diperlonggar masuk ke Indonesia, dia harus diwajibkan kerja sama transfer teknologi dengan BUMN farmasi," usulnya.

Marius punya gagasan lain lagi. Dia melihat beberapa obat bermerek dikuasai farmasi asing patennya sudah kadaluarsa. Artinya, status mereka hanyalah generik bermerek. Obat-obat semacam itu, misalnya Topamax, dibutuhkan penderita epilepsi, wajib dikontrol Kementerian Kesehatan.

Dia mengaku punya data generik bermerek adalah satu satu sektor harganya gila-gilaan tanpa pernah dikontrol. "Obat merek itu harganya dilepas begitu saja. Data saya ada yang 40-60 kali lipat dari harga generiknya," kata Marius.

Ini juga perkara kemauan politik. Kenyataannya, Marius melihat data harga obat dipasok industri untuk program pemerintah dilepas hanya 3-4 kali dari biaya produksi. "Mekanisme pengendalian harga jual harus dibuat," kata Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia ini.

Editor : Maulana Lee

Sumber : Merdeka.com

Fullmer, who reigned when fight clubs abounded and Friday night fights were a television staple, was known for his title bouts with Sugar Ray Robinson and Carmen Basilio.

Mr. Goldberg was a serial Silicon Valley entrepreneur and venture capitalist who was married to Sheryl Sandberg, the chief operating officer of Facebook.

Dave Goldberg Was Lifelong Women’s Advocate

Artikel lainnya »