Kursus/ Training/ Workshop/ Balai latih/ Konsultan/ Pelatihan/ Seminar mesin CNC Milling / Mesin Bubut & CAD/CAM di Bandung, Jakarta, Tangerang, Surabaya, Bekasi, Bogor, Depok.

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Babakan Ciamis Bandung Hubungi : 085711904807 Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Babakan Ciamis Bandung Mesin CNC sekarang banyak digunakan dalam industri permesinan kursus mesin cnc di Bekasi untuk memproduksi komponen dengan tingkat kerumitan dan presisi yang tinggi. Selain itu, mesin CNC mempunyai konsistensi yang lebih efektif untuk pengerjaan dalam jumlah banyak. Penggunaan mesin konvensional dalam proses pemotongan, pengeboran dan proses permesinan lainnya, tentu saja memberikan hasil yang tidak presisi dan memerlukan waktu cukup lama dikarenakan hasil produksi akan tergantung dari kemampuan operator dalam melakukan proses tersebut. Banyak produk-produk yang dihasilkan dengan mesin CNC ini, mulai dari peralatan rumah tangga,kendaraan bermotor sampai pesawat terbang sekalipun menggunakan teknologi ini Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Babakan Ciamis Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Babakan Ciamis Bandung

Ciater memang sudah lama sebagai tujuan wisata. Wisatawan lokal maupun asing pergi kesana karena ingin berendam air panas sambil

Ciater memang sudah lama sebagai tujuan wisata. Wisatawan lokal maupun asing pergi kesana karena ingin berendam air panas sambil menikmati pemandangan gunung Tangkuban Perahu yang sekelilingnya dihiasi oleh perkebunan teh nan sejuk segar.

Di Ciater ada beberapa kolam pemandian berupa aliran sungai yang ditanggul dalam berbagai tempat dengan sumber mata air panas. Biasanya orang luar kota mampir ke Ciater sambil berendam air panas untuk dapat melepas kelelahan selama perjalanan.

Untuk menuju Ciater, sangat mudah. Daerah Ciater termasuk dalam kawasan Gunung Tangkuban Perahu namun masuk dalam wilayah kabupaten Subang.

Kalau dari sisi kota Bandung, maka Ciater ada di Utara kota Bandung. Dari Bandung sekitar 30-an km menuju arah utara. Rute yang harus ditempuh dari Bandung Kota menuju ke Lembang, terus dari Lembang ke arah Subang. Setelah menanjak melewati jalur Cikole/Tangkuban Perahu, maka jalan akan menurun tajam menuju arah Ciater. Sekitar 7 kiloan dari Cikole.

Setelah masuk kawasan Ciater, nanti ada pertigaan belok kanan (ada petunjuk arah). Setelah membayar tiket, bisa masuk kedalam.

Oiya, kalau mau kesini jangan lupa bawa baju ganti, karena sayang kalau ke Ciater tanpa mandi air panas, karena sebenarnya obyek intinya adalah menikmati uap belerang dari aliran sungai Ciater.

Anda juga bisa berendam dalam kolam atau disungai sambil bermalas-malasan sepuasnya. Wisata yang sangat simpel, selamat menikmati uap belerang dari kaki Tangkuban Perahu.

saco-indonesia.com, Sejumlah maling bertopeng ala ninja telah beraksi membobol dua rumah di Lingkungan Bukit Indah RT 001 RW 006

saco-indonesia.com, Sejumlah maling bertopeng ala ninja telah beraksi membobol dua rumah di Lingkungan Bukit Indah RT 001 RW 006, Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sejumlah uang telah berhasil dibawa kabur oleh pelaku.

"Kasus pencurian itu telah terjadi pada Rabu (12/2) kemarin dini hari sekitar pukul 02.30 dinihari WITA. Kami juga telah mendatangi lokasi untuk dapat melakukan olah TKP dan hingga kini kasusnya dalam penyelidikan intensif," kata Kasat Reskrim AKP Erwan Yudha Perkasa.

Menurut dia, dalam menjalankan aksinya, maling yang diduga lebih dari satu orang ini telah memanjat tembok rumah korban Sudarli setinggi empat meter.

Selanjutnya, maling turun dengan menggunakan tali dan masuk dalam kamar korban. Dari rumah pegawai Dinas Diknas Sumbawa itu, pelaku dengan leluasa telah berhasil menggondol laptop, notebook, empat handphone Samsung, serta uang tunai Rp1 juta.

Setelah berhasil menggondol barang berharga milik Sudarli, para maling beraksi ke rumah sebelahnya. Rumah itu telah dimiliki oleh saudara ipar Sudarli, yakni Abdul Rahman.

Sama seperti aksi pada rumah Sudarli, maling lebih dulu memanjat tembok, turun dengan menggunakan tali, lalu masuk ke dalam kamar anak Abdul Rahman. Sejumlah barang seperti laptop dan handphone telah diambil maling dari kamar tersebut.

"Korban juga baru mengetahui pencurian itu saat para pelaku sudah meninggalkan tempat," ujar Erwan.

Kasus pencurian di dua rumah ini juga sudah ditangani oleh penyidik Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Sumbawa, setelah korban melaporkannya secara resmi.


Editor : Dian Sukmwawati

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Ms. Rendell was a prolific writer of intricately plotted mystery novels that combined psychological insight, social conscience and teeth-chattering terror.

Artikel lainnya »