Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasir Endah Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasir Endah Bandung Hubungi : 085711904807 Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasir Endah Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasirwangi Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasirwangi Bandung Hubungi : 085711904807 Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasirwangi Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasanggrahan Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasanggrahan Bandung Hubungi : 085711904807 Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasanggrahan Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasirjati Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasirjati Bandung Hubungi : 085711904807 Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Pasirjati Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Cigending Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Cigending Bandung Hubungi : 085711904807 Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Cigending Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Ujung Berung Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Ujung Berung Bandung Hubungi : 085711904807 Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Ujung Berung Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Babakan Ciamis Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Babakan Ciamis Bandung Hubungi : 085711904807 Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Babakan Ciamis Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Merdeka Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Merdeka Bandung Hubungi : 085711904807 Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Merdeka Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Kebon Pisang Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Kebon Pisang Bandung Hubungi : 085711904807 Kami Tenaga ahli yang berpengalaman lebih dari 10 Tahun yang bergerak dalam bidang pelatihan mengoperasikan dan memprogram mesin CNC Milling. Spesial diskon untuk Paket Perusahaan / Instansi, Paket Perguruan Tinggi dan Paket Sekolah/Guru/Siswa yang ingin bekerjasama Hubungi Tim Marketing kami : 085711904807 (Seminar, Workshop, Projek, dll. *Office : LKP SINDO (Lembaga Kursus dan Pelatihan Sinergi Indonesia) Jl. Ters. Cisokan Dalam No. 21 Bandung *Workshop : PT. Tekmindo (Teknologi Manufaktur Indonesia) Bandung

Info Tempat Kursus Mesin CNC Murah di Kebon Pisang Bandung

saco-indonesia.com, Setelah berhasil lolos dari tiga kali pengepungan, pentolan geng motor Briges berinisial TS yang berusia 30

saco-indonesia.com, Setelah berhasil lolos dari tiga kali pengepungan, pentolan geng motor Briges berinisial TS yang berusia 30 tahun tewas akhirnya tumbang, ditembak Timsus Sat Reskrim Polres Ciamhi, di Margasih, Cimahi, Selasa (28/1) Subuh.

Enam motor dan senjata api yang selalu ditenteng sang ‘komandan’ telah berhasil diamankan. ‘Komandan’ geng yang telah tercatat 30 kali merampas motor tak berdaya saat dua pelor polisi bersarang di dadanya.

Kasat Reskrim Polres Cimahi AkKP Suparma, kepada Pos Kota, telah menjelaskan, aksi penembakan terhadap komandan geng motor Briges asal Kopo Kabupaten Bandung berlangsung Rabu dini hari lalu.

Tempat tersangka bersumbunyi dalam pekan ini sudah tiga kali digerebek namun sang Komandan telah berhasil meloloskan diri. Namun, Selasa dini hari, sang komandan tak bisa kabur saat tempat bersumbunyinya dikepung oleh polisi.

“Dalam keadaan terdesak dia juga masih melawan anggota dengan menggunakan pistol. Kami langsung menembaknya,“ ujar Suparma.

Kasat mengakui, TS sudah tiga tahun menjadi buronan polisi. Meski dia berdomisili di Kopo – Kabupaten Bandung,  namun melakukan lejahatanya di wilayah Bandung Raya.

Modusnya, memepet motor korban, menguras harta bendanya.“Jika korban melawan dia membunuhnya. Maka, kami juga akan tetap menyikat pentolan pentolan geng motor yang brutal,“ tandasnya.

ENAM JAMBRET

Sementara itu, di Kota Bandung, enam jambret yang biasa beraksi di tengah malam telah ditangkap oleh tim khusus Polsek Bandung Wetan, Senin (27/1) malam. Satu diantaranya, DN telah ditebak betisnya lantaran kabur saat mau ditangkap.

Lima jambret lainya yang ditangkap dikenali sebagai Dadang Budiawan alias Bako, Beri Suryadi alias Abey, Adam Dani Nugraha alias Benuy, Vikry Septian alias Ebow, Gita Kurniawansyah alias Saprol dan Ira Sunandar alias Kontol. Tersangka D, H dan E masih DPO.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Mashudi telah menyebutkan, awalnya petugas telah menangkap tangan dua orang tersangka penjambretan saat beraksi di Jalan RE Martadinata, Bandung. Setelah dilakukan pemeriksaan berkembang kjeempat tersangka lainya.

“Modusnya mereka memepet korban di tempat-tempat sepi, dan mengambil barang berharganya. Bila korban  melawan, tersangka  tak segan untuk melukainya, ” bebernya.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Pengadilan tindak pidana korupsi Jakarta akan kembali menggelar sidang lanjutan kasus dugaan suap kepada Rud

saco-indonesia.com, Pengadilan tindak pidana korupsi Jakarta akan kembali menggelar sidang lanjutan kasus dugaan suap kepada Rudi Rubiandini. Agenda sidang kali ini yakni untuk mendengarkan keterangan saksi.

"Saksi yang akan dihadirkan Selasa (hari ini) yakni Simon G Tanjaya dan Deviardi," kata kuasa hukum Rudi, Rusdi A Bakar, saat dikonfirmasi, Selasa (11/2/2014).

Simon adalah bos PT Kernel Oil Indonesia, sedangkan Deviardi adalah pelatih golf Rudi. Saksi lain yang juga bakal dihadirkan yakni Plt Kepala SKK Migas Johanes Widjanarko, Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri (KPI) Artha Meris Simbolon, Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis SKK Migas Gerhard Maarten Rumeser, dan Kepala Divisi Penunjang Operasi SKK Migas Iwan Ratman.

Setiap kesaksian yang mereka sampaikan akan dikonfrontasi dengan Rudi Rubiandini.

Rudi didakwa telah menerima uang saat menjabat Kepala SKK Migas guna untuk memuluskan penanganan tender lelang. Di mana, uang suap yang telah diberikan petinggi PT Kernel Oil Singapura Widodo Ratanachaitong sebesar SGD200 ribu dan USD900 ribu diberikan melalui Deviardi.

Selain itu, Rudi juga akan didakwa menerima uang dari Artha Meris Simbolon sebesar USD522.500, lalu dari Johanes Widjanarko SGD600 ribu, Gerhard Rumesser USD150 dan USD200, serta dari Kepala Divisi Penunjang Operasi SKK Migas Iwan Ratman sebesar USD50 ribu.

sidang yang sejatinya digelar pukul 09.00 WIB, hingga pukul 10.45 WIB belum juga dimulai.


Editor : Dian Sukmawati

Alhamdulillah Kata Wisata menurut bahasa mengandung arti yang banyak. Akan tetapi dalam istilah yang dikenal sekarang lebih d

Alhamdulillah

Kata Wisata menurut bahasa mengandung arti yang banyak. Akan tetapi dalam istilah yang dikenal sekarang lebih dikhususkan pada sebagian makna itu. Yaitu, yang menunjukkan berjalan-jalan ke suatu negara untuk rekreasi atau untuk melihat-lihat, mencari dan menyaksikan (sesuatu) atau semisal itu. Bukan untuk mengais (rezki), bekerja dan menetap. Silakan lihat kitab Al-Mu’jam Al-Wasith, 469.

Berbicara tentang wisata menurut pandangan Islam, maka harus ada pembagian berikut ini,

Pertama: Pengertian wisata umrah dalam Islam.

Islam datang untuk merubah banyak pemahaman keliru yang dibawa oleh akal manusia yang pendek, kemudian mengaitkan dengan nilai-nilai dan akhlak yang mulia. Wisata dalam pemahaman sebagian umat terdahulu dikaitkan dengan upaya menyiksa diri dan mengharuskannya untuk berjalan di muka bumi, serta membuat badan letih sebagai hukuman baginya atau zuhud dalam dunianya. Islam datang untuk menghapuskan pemahaman negatif yang berlawanan dengan (makna) wisata.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hani dari Ahmad bin Hanbal, beliau ditanya tentang seseorang yang bepergian atau bermukim di suatu kota, mana yang lebih anda sukai? Beliau menjawab: "Wisata tidak ada sedikit pun dalam Islam, tidak juga prilaku para nabi dan orang-orang saleh." (Talbis Iblis, 340).

Ibnu Rajab mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan mengatakan: "Wisata dengan pemahaman   ini telah dilakukan oleh sekelompok orang yang dikenal suka beribadah dan bersungguh-sungguh    tanpa didasari ilmu. Di antara mereka ada yang kembali ketika mengetahui hal itu." (Fathul-Bari, karangan Ibnu Rajab, 1/56)

Kamudian Islam datang untuk meninggikan pemahaman wisata dengan mengaitkannya dengan tujuan-tujuan yang mulia. Di antaranya

1.      Mengaitkan wisata dengan ibadah, sehingga mengharuskan adanya safar -atau wisata- untuk menunaikan salah satu rukun dalam agama yaitu haji pada bulan-bulan tertentu. Disyariatkan umrah ke Baitullah Ta’ala dalam satahun.

Ketika ada seseorang datang kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam minta izin untuk berwisata dengan pemahaman lama, yaitu safar dengan makna  kerahiban atau sekedar menyiksa diri, Nabi sallallahu alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada maksud yang lebih mulia dan tinggi dari sekedar berwisata dengan mengatakan kepadanya, “Sesunguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan Allah.” (HR. Abu Daud, 2486, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud dan dikuatkan sanadnya oleh Al-Iraqi dalam kitab Takhrij Ihya Ulumuddin, no. 2641). Perhatikanlah bagaimana Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengaitkan wisata yang dianjurkan dengan tujuan yang agung dan mulia.

2.      Demikian pula, dalam pemahaman Islam, wisata dikaitkan dengan ilmu dan pengetahuan. Pada permulaan Islam, telah ada perjalanan sangat agung dengan tujuan mencari ilmu dan menyebarkannya. Sampai Al-Khatib Al-Bagdady menulis kitab yang terkenal ‘Ar-Rihlah Fi Tolabil Hadits’, di dalamnya beliau mengumpulkan kisah orang yang melakukan perjalanan hanya untuk mendapatkan dan mencari satu hadits saja.

Di antaranya adalah apa yang diucapkan oleh sebagian tabiin terkait dengan firman Allah Ta’ala:

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (سورة التوبة: 112)

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, beribadah, memuji, melawat, ruku, sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu." (QS. At-Taubah: 112)

Ikrimah berkata ‘As-Saa'ihuna’ mereka adalah pencari ilmu. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim  dalam tafsirnya, 7/429. Silakan lihat Fathul Qadir, 2/408. Meskipun penafsiran yang benar menurut mayoritas ulama salaf bahwa yang dimaksud dengan ‘As-Saaihin’ adalah orang-orang  yang berpuasa.

3.      Di antara maksud wisata dalam Islam adalah mengambil pelajaran dan peringatan. Dalam Al-Qur’anulkarim terdapat perintah untuk berjalan di muka bumi di beberapa tempat.  Allah  berfirman: “Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." (QS. Al-An’am: 11)

Dalam ayat lain, “Katakanlah: 'Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS. An-Naml: 69)

Al-Qasimi rahimahullah berkata; ”Mereka berjalan dan pergi ke beberapa tempat untuk melihat berbagai peninggalan sebagai nasehat, pelajaran dan manfaat lainnya." (Mahasinu At-Ta’wil, 16/225)

4.      Mungkin di antara maksud yang paling mulia dari wisata dalam Islam adalah berdakwah kepada Allah Ta’ala, dan menyampaikan kepada manusia cahaya yang diturunkan kepada Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Itulah tugas para Rasul dan para Nabi dan orang-orang setelah mereka dari kalangan para shahabat semoga, Allah meridhai mereka. Para shabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah menyebar ke ujung dunia untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia, mengajak mereka kepada kalimat yang benar. Kami berharap wisata yang ada sekarang mengikuti wisata   yang memiliki tujuan mulia dan agung. 

5.      Yang terakhir dari pemahaman wisata dalam Islam adalah safar untuk merenungi keindahan   ciptaan Allah Ta’la, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan Allah dan memotivasi menunaikan kewajiabn hidup. Karena refresing jiwa perlu untuk memulai semangat kerja baru. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ سِيرُوا فِي الأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  (سورة العنكبوت: 20)

Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabut: 20)

Kedua: Aturan wisata dalam Islam

Dalam ajaran Islam yang bijaksana terdapat hukum yang mengatur dan mengarahkan agar  wisata tetap menjaga maksud-maksud yang telah disebutkan tadi, jangan sampai keluar melewati  batas, sehingga wisata menjadi sumber keburukan  dan dampak negatif bagi masyarakat. Di antara hukum-hukum itu adalah:

1.      Mengharamkan safar dengan maksud mengagungkan tempat tertentu kecuali tiga masjid. Dari  Abu Hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu’alai wa sallam bersabda:

لا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلا إِلَى ثَلاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى (رواه البخاري، رقم  1132  ومسلم، رقم  1397)

“Tidak dibolehkan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasulullah sallallahu’alaihi wa saal dan Masjidil Aqsha." (HR. Bukhari, no. 1132, Muslim, no. 1397)

Hadits ini menunjukkan akan haramnya  promosi wisata yang dinamakan Wisata Religi ke  selain tiga masjid, seperti ajakan mengajak wisata ziarah kubur, menyaksikan tempat-tempat   peninggalan kuno, terutama peninggalan yang diagungkan manusia, sehingga mereka terjerumus dalam  berbagai bentuk kesyirikan yang membinasakan. Dalam ajaran Islam tidak ada pengagungan pada tempat tertentu dengan menunaikan ibadah di dalamnya sehingga menjadi tempat yang  diagungkan selain tiga tempat tadi.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, "Aku pergi  Thur (gunung Tursina di Mesir), kemudian    aku bertemu Ka’b Al-Ahbar, lalu duduk bersamanya, lau beliau menyebutkan hadits yang panjang,  kemudian berkata, "Lalu aku bertemu Bashrah bin Abi Bashrah Al-Ghifary dan berkata, "Dari mana kamu datang?" Aku menjawab, "Dari (gunung) Thur."  Lalu beliau mengatakan, "Jika aku  menemuimu sebelum engkau keluar ke sana, maka (akan melarang) mu pergi, karena aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jangan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, ke Masjidil Haram, Masjidku ini dan Masjid Iliyya atau Baitul Maqdis." (HR. Malik dalam Al-Muwatha, no. 108. Nasa’i, no. 1430, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih An-Nasa’i)

Maka tidak dibolehkan memulai perjalanan menuju tempat suci selain tiga tempat ini. Hal  itu  bukan berarti dilarang mengunjungi masjid-masjid yang ada di negara muslim, karena kunjungan kesana dibolehkan, bahkan dianjurkan. Akan tetapi yang dilarang adalah melakukan safar dengan niat seperti itu.   Kalau ada tujuan lain dalam safar, lalu diikuti dengan berkunjung ke (masjid), maka hal itu tidak mengapa. Bahkan terkadang diharuskan untuk menunaikan jum’at dan shalat berjamaah. Yang keharamannya lebih berat adalah apabila kunjungannya ke tempat-tempat suci agama lain. Seperti pergi mengunjungi Vatikan atau patung Budha atau  lainnya yang serupa.

2.      Ada juga dalil yang mengharamkan wisata seorang muslim ke negara kafir secara umum. Karena berdampak buruk terhadap agama dan akhlak seorang muslim, akibat bercampur dengan kaum yang tidak mengindahkan agama dan akhlak. Khususnya apab ila tidak ada keperluan dalam  safar  tersebut seperti untuk berobat, berdagang atau semisalnya, kecuali Cuma sekedar bersenang senang dan rekreasi. Sesungguhnya Allah telah menjadikan negara muslim memiliki   keindahan penciptaan-Nya, sehingga tidak perlu pergi ke negara orang kafir.

Syekh Shaleh Al-Fauzan hafizahullah berkata: “Tidak boleh Safar ke negara kafir, karena ada kekhawatiran terhadap akidah, akhlak, akibat bercampur dan menetap di tengah  orang kafir  di antara mereka. Akan tetapi kalau ada keperluan mendesak dan tujuan yang benar untuk safar ke negara mereka seperti safar untuk berobat yang tidak ada di negaranya atau safar untuk belajar yang tidak didapatkan di negara muslim atau safar untuk berdagang, kesemuanya ini adalah tujuan yang benar, maka dibolehkan safar ke negara kafir dengan syarat menjaga syiar keislaman dan memungkinkan melaksanakan agamanya di negeri mereka. Hendaklah seperlunya, lalu kembali ke negeri Islam. Adapun kalau safarnya hanya untuk wisata, maka tidak dibolehkan. Karena seorang muslim tidak membutuhkan hal itu serta tidak ada manfaat yang sama atau yang lebih kuat dibandingkan dengan bahaya dan kerusakan pada agama dan keyakinan. (Al-Muntaqa Min Fatawa Syekh Al-Fauzan, 2 soal no. 221)

Penegasan tentang masalah ini telah diuraikan dalam situs kami secara terperinci dan  panjang lebar. Silakan lihat soal no. 13342, 8919, 52845.

3.      Tidak diragukan lagi bahwa ajaran Islam melarang wisata ke tempat-tempat rusak yang terdapat minuman keras, perzinaan, berbagai kemaksiatan seperti di pinggir    pantai yang bebas dan acara-acara bebas dan tempat-tempat kemaksiatan. Atau juga diharamkan safar untuk mengadakan perayaan bid’ah. Karena seorang muslim diperintahkan untuk menjauhi kemaksiatan maka jangan terjerumus (kedalamnya) dan jangan duduk dengan orang yang melakukan itu.

Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan: “Tidak diperkenankan bepergian ke tempat-tempat kerusakan untuk berwisata. Karena hal itu mengundang bahaya terhadap agama dan akhlak. Karena ajaran Islam datang untuk menutup peluang yang menjerumuskan kepada keburukan." (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 26/332)

Bagaimana dengan wisata yang menganjurkan kemaksiatan dan prilaku tercela, lalu kita ikut  mengatur, mendukung dan menganjurkannya?

Para ulama Al-Lajnah Ad-Daimah juga berkata: “Kalau wisata tersebut mengandung unsur memudahkan melakukan kemaksiatan dan kemunkaran serta mengajak kesana, maka tidak boleh bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir membantu untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah dan menyalahi perintahNya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti yang lebih baik dari itu. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 26/224)

4.      Adapun berkunjung ke bekas peninggalan umat terdahulu dan situs-situs kuno , jika itu adalah  bekas tempat turunnya azab, atau tempat suatu kaum dibinasakan sebab kekufurannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak dibolehkan menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata dan hiburan.

Para Ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, ada di kota Al-Bada di  provinsi Tabuk terdapat peninggalan kuno dan rumah-rumah yang diukir di gunung. Sebagian orang mengatakan bahwa itu adalah tempat tinggal kaum Nabi Syu’aib alaihis salam. Pertanyaannya adalah, apakah ada dalil  bahwa ini adalah tempat tinggal kaum Syu’aib –alaihis salam- atau tidak ada dalil akan hal itu? dan apa hukum mengunjungi tempat purbakala itu bagi orang yang bermaksuk untuk sekedar melihat-lihat dan bagi yang bermaksud mengambil pelajaran dan nasehat?

Mereka menjawab: “Menurut ahli sejarah dikenal bahwa tempat tinggal bangsa Madyan yang  diutus kepada mereka Nabiyullah Syu’aib alaihis shalatu was salam berada di arah barat daya  Jazirah Arab yang sekarang dinamakan Al-Bada dan sekitarnya. Wallahu’alam akan kebenarannya. Jika itu benar, maka tidak diperkenankan berkunjung ke tempat ini dengan tujuan sekedar  melihat-lihat. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam ketika melewati Al-Hijr, yaitu tempat tinggal  bangsa Tsamud (yang dibinasakan) beliau bersabda: “Janganlah  kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi dirinya, khawatir kalian tertimpa seperti yang menimpa mereka,   kecuali kalian dalam kondisi manangis. Lalu beliau menundukkan kepala dan berjalan cepat     sampai melewati sungai." (HR. Bukhari, no. 3200 dan Muslim, no. 2980)

Ibnu Qayyim rahimahullah berkomentar ketika menjelaskan manfaat dan hukum yang diambil dari peristiwa perang Tabuk, di antaranya adalah barangsiapa yang melewati di tempat mereka yang Allah murkai dan turunkan azab, tidak sepatutnya dia memasukinya dan menetap di dalamnya, tetapi hendaknya dia mempercepat jalannya dan menutup wajahnya hingga lewat. Tidak boleh memasukinya kecuali dalam kondisi menangis dan mengambil pelajaran. Dengan landasan ini, Nabi sallallahu’alaihi wa sallam menyegerakan jalan di wadi (sungai) Muhassir antara Mina dan Muzdalifah, karena di tempat itu Allah membinasakan pasukan gajah dan orang-orangnya." (Zadul Ma’ad, 3/560)

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam menjelaskan hadits tadi, "Hal ini mencakup  negeri  Tsamud dan negeri lainnya yang sifatnya sama meskipun sebabnya terkait dengan mereka." (Fathul Bari, 6/380).

Silakan lihat kumpulan riset Majelis Ulama Saudi Arabia jilid ketiga, paper dengan judul Hukmu   Ihyai Diyar Tsamud (hukum menghidupkan perkampungan Tsamud). Juga silahkan lihat soal jawab no. 20894.

5.      Tidak dibolehkan juga wanita bepergian tanpa mahram. Para ulama telah memberikan fatwa haramnya wanita pergi haji atau umrah tanpa mahram. Bagaimana dengan safar untuk wisata yang di dalamnya banyak tasahul (mempermudah masalah) dan campur baur yang diharamkan? Silakan lihat soal jawab no. 4523, 45917, 69337 dan 3098.

6.      Adapun mengatur wisata untuk orang kafir di negara Islam, asalnya dibolehkan. Wisatawan kafir kalau diizinkan oleh pemerintahan Islam untuk masuk maka diberi keamanan sampai keluar. Akan tetapi keberadaannya di negara Islam harus terikat dan menghormati agama Islam, akhlak umat Islam dan kebudayaannya. Dia pun di larang mendakwahkan agamanya dan tidak menuduh Islam dengan batil. Mereka juga tidak boleh keluar kecuali dengan penampilan sopan dan memakai pakaian yang sesuai untuk negara Islam, bukan dengan pakaian yang biasa dia pakai di negaranya dengan terbuka dan tanpa baju. Mereka juga bukan sebagai mata-mata atau spionase untuk negaranya. Yang terakhir tidak diperbolehkan berkunjung ke dua tempat suci; Mekkah dan Madinah.

Ketiga:

Tidak tersembunyi bagi siapa pun bahwa dunia wisata sekarang lebih dominan dengan kemaksiatan, segala perbuatan buruk dan melanggar yang diharamkan, baik sengaja bersolek diri, telanjang di tempat-tempat umum, bercampur baur yang bebas, meminum khamar, memasarkan kebejatan, menyerupai orang kafir, mengambil kebiasaan dan akhlaknya bahkan sampai penyakit mereka  yang  berbahaya. Belum lagi, menghamburkan uang yang banyak dan waktu serta kesungguhan. Semua itu dibungkus dengan nama wisata. Maka ingatlah bagi yang mempunyai kecemburuan terhadap agama, akhlak dan umatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jangan sampai menjadi penolong untuk mempromosikan wisata fasik ini. Akan tetapi hendaknya memeranginya dan memerangi  ajakan mempromosikannya. Hendaknya bangga dengan agama, wawasan dan akhlaknya. Hal tersebut akan menjadikan negeri kita terpelihara dari segala keburukan dan mendapatkankan pengganti keindahan penciptaan Allah ta’ala di negara islam yang terjaga.

Sumber : http://islamqa.info

Baca Artikel Lainnya : DUSUN MLANGI, WISATA ISLAM INDONESIA

 

Anak-anak tidak diwajibkan melaksanakan ibadah haji. Apabila dia telah melaksanakan haji, hajinya sah tetapi bukan berarti telah

Anak-anak tidak diwajibkan melaksanakan ibadah haji. Apabila dia telah melaksanakan haji, hajinya sah tetapi bukan berarti telah melaksanakan haji Islam.Diriwayatkan ada seorang wanita menggendong anak kecil mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, "Apakah anak ini boleh melaksanakan haji?" Beliau menjawab, "Boleh, engkau mendapat pahala."

Dari Jabir ra. ia berkata,"Dahulu kami melaksanakan haji bersama Rasulullah saw. ikut juga bersama kami para wanita dan anak-anak kecil. Kami mentalbiyahkan anak-anak kecil dan juga melontarkan jumrah untuk mereka."
Apabila anak kecil melasanakan haji sebelum balig, dia masih wajib melaksanakan haji bila dia sudah balig. Demikian pula hamba sahaya, apabila melaksanakan haji ketika dalam keadaan budak kemudian dia merdeka, maka dia masih wajib melaksanakan haji jika mampu.

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Anak kecil mana saja yang melaksanakan haji, setelah balig dia wajib melaksanakan haji sekali lagi. Siapa saja hamba yang melaksanakan haji kemudian merdeka, dia wajib melaksanakan haji sekali lagi." Jika anak kecil tersebut sudah mumayyiz, maka dia berniat ihram untuk dirinya sendiri dan melaksanakan manasik haji. Jika belum mumayyiz, maka walinyalah yang meniatkan ihram, mentalbiyahkan, tawaf dan sai bersamanya, wukuf di Arafah dan melontarkan jumrah untuknya.

Jika ia baligh sebelum wuquf di Arafah atau di Arafah, maka ia mendapatkan pahala haji Islam. Imam Malik berpendapat, "Hajinya tidak sah." Ulama Hanafi berpendapat, "Hajinya sah jika ihramnya diperbaharui setelah ia balig." 

Sumber : http://artikel-haji-dan-umrah.blogspot.com

Baca Artikel Lainnya : MENJADI HAJI YANG MABRUR

Berikut ini adalah, 50 pelajaran berharga dari Rukun Islam Kelima untuk kehidupan manusia. Semoga Alloh memberikan taufiq, bantu

Berikut ini adalah, 50 pelajaran berharga dari Rukun Islam Kelima untuk kehidupan manusia. Semoga Alloh memberikan taufiq, bantuan, dan menunjuki kebenaran pada kami dalam menyelesaikan tulisan ini.

1. Pendidikan untuk mentauhidkan Alloh, baik dalam ucapan maupun amalan, hal ini terlihat jelas dalam beberapa amalan berikut ini:

a. Bacaan talbiyah, yang disebut juga dengan kalimat tauhid: Labbaikallohumma labbaik…

b. Dimasukkannya dalam talbiyah kata: la syarika lak (tiada sekutu bagi-Mu).

c. Kata la syarika lak yang diulangi dua kali dalam bacaan talbiyah, ini menunjukkan adanya penekanan dalam hal tauhid.

d. Kata-kata: “Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk”, maksudnya adalah: “Sesungguhnya semua pujian, segala nikmat, dan seluruh kekuasaan hanya bagi-Mu ya Alloh”, dan ini juga mengandung nilai tauhid.

e. Larangan thowaf di selain Ka’bah, itu artinya kita dilarang untuk thowaf di arofah, di jamarot, di pemakaman, tempat keramat, tempat bersejarah, dll. Ini semua bukti keyakinan kita, bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh, dan itulah diantara bentuk nyata mentauhidkan Alloh.

2. Pendidikan untuk banyak memuji Alloh. Hal ini tampak pada kata hamdalah yang ada dalam talbiyah. Meski saat datang ke tanah suci, jamaah haji sedang dalam keadaan tertimpa musibah, didera cobaan, sakit, miskin, dan terasingkan… mereka semua tetap memuji Alloh, seakan-akan mereka dalam keadaan lapang, sehat, dan kuat… Sungguh tak diragukan lagi, memuji Alloh dianjurkan bagi setiap muslim, baik di saat suka, maupun duka.

3. Pendidikan untuk selalu membasahi lisan dengan dzikir, ini tampak pada:

a. Disunnahkannya membaca talbiyah hingga sampai di masjidil harom, atau sampai melihat ka’bah, atau sampai memulai thowaf. Meski para ulama berbeda pendapat tentang kapan harus mengakhiri talbiyah, tapi semua pendapat itu mengisyaratkan anjuran untuk memperbanyak talbiyah.

b. Saat thowaf, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa, atau dzikir, atau pujian pada Alloh, dan semuanya merupakan bentuk dzikir.

c. Dalam sai juga demikian.

d. Doa di Hari Arofah yang berupa dzikir: “la ilaaha illallohu wahdahu….

e. Hari-hari di mina adalah hari untuk makan, minum, dan berdzikir.

f. Disyariatkannya melempar jumroh adalah untuk berdzikir mengingat-Nya.

g. Disunnahkan untuk membaca takbir dalam setiap lemparan kerikilnya.

Dan masih banyak lagi tempat dan kesempatan lain untuk memperbanyak dzikir dalam ibadah haji ini. Itu semua mengajarkan pada seorang muslim agar lisannya selalu basah dengan bacaan dzikir.

4. Mengajarkan kita untuk mengingat mati, yaitu dari pengenaan kain kafan dalam pelaksanaannya. Dengan ini, seorang mukmin akan teringat dan merasakan bagaimana akhir hidupnya, sehingga hal itu akan mempengaruhi hati dan amalannya.

5. Mengajarkan manusia untuk zuhud pada dunia dan kenikmatannya. Baik dia seorang yang kaya, presiden, atau menteri, ia tidak akan mengenakan kecuali baju putih itu. Seandainya ia ingin mengenakan baju lain yang dimilikinya, tetap saja tidak diperbolehkan baginya.

6- Mendidik manusia untuk qona’ah, sekaligus memberi pelajaran bahwa kekayaan yang hakiki adalah pada sifat qonaah itu. Oleh karena itu, para jama’ah haji dilatih untuk cukup hanya dengan mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, cukup dengan tidur sekedar bisa menghilangkan lelah dan malas, dan cukup dengan makan sekedar bisa menopang tubuhnya.

7. Mengajarkan pada manusia, bahwa kekayaan duniawi tidaklah memiliki kedudukan di sisi Alloh bila dilihat dari dzatnya. Oleh karena itu para jamaah haji sama-sama dalam pakaian dan amalannya. Adapun kekayaan, kefakiran, kedudukan, dan tempat tinggal mereka, sungguh hal itu tidak punya pengaruh apa-apa. Yang mempengaruhi mereka hanyalah keikhlasan dan mengikuti sunnah dalam beramal. Sungguh demi Alloh, betapa banyak para masakin di tempat itu yang lebih mulia, dari mereka yang kaya dan memiliki kedudukan yang tinggi!!.

8. Mengajarkan pada manusia dasar Persatuan Islam, hal ini tampak dari seragamnya perbuatan, amalan, tempat, dan waktu mereka.

9. Mengajarkan pada manusia untuk sabar dalam menghadapi kemaksiatan, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:

a. Sabar untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang ketika dalam keadaan ihrom.

b. Sabar untuk tidak melakukan kefasikan, sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa berkewajiban menunaikan ibadah haji dalam bulan-bulan haji, maka janganlah ia berbuat fasik dan keji”. Sehingga ketika ia pulang ke negerinya, ia telah terdidik dan terbiasa sabar dari segala kemaksiatan, sebagaimana ia sabar menghadapinya pada hari-hari itu.

10. Mengajarkan pada muslim untuk sabar dalam ketaatan. Dan barangsiapa mau merenungi masalah-masalah tentang haji, tentu ia akan menemukan makna ini. Hal itu terlihat diantaranya:

Ketika jama’ah haji ingin bersegera kembali ke negerinya, ia tidak diperkenankan sebelum tanggal 12 dzulhijjah.

Pulangnya juga harus setelah melempar dan thowaf wada’, meski ia berasal dari negeri yang jauh, tetap saja ia harus menjalani semua amalan ketaatan ini, baru setelah itu diperkenankan untuk pulang.

11. Mengajarkan pada manusia, agar menyiapkan diri sebelum melakukan ketaatan, oleh karena itu disunnahkan bagi yang ingin memulai ihrom, agar mandi, membersihkan diri, memotong kuku, membersihkan rambut kemaluan dan ketiaknya, dan memarfumi badannya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Begitu pula ketika sudah tahallul awal dan akan melakukan thowaf ifadloh, disunnahkan baginya memakai parfum, sebagaimana dicontohkan oleh beliau. Tak diragukan lagi, tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap jiwa ketika menjalani ibadahnya, sekaligus menambah kekhusyu’annya.

12. Mengajarkan pada manusia untuk ikhlas dan tulus hati, yang keduanya adalah puncak amalan hati, dengan keduanya sebuah amal akan diterima dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.

13. Mengajarkan pada manusia untuk tawakkal dan menyerahkan urusannya hanya pada Alloh semata, terutama dalam menunaikan dan memudahkan ibadahnya. Lihatlah bagaimana seorang muslim yang datang dengan meninggalkan keluarga, anak, dan hartanya, tentunya ia akan menyerahkan urusan harta dan sanak keluarganya pada Tuhannya, ia juga tentunya banyak meminta permohonan pada-Nya dalam menjalani beratnya perjalanan, terutama mereka yang datang dari negeri jauh.

14. mengajarkan manusia untuk bertawakkal yang benar, tentunya tawakkal yang tidak mengesampingkan usaha lahiriyah yang diperintahkan untuk mencari rizki, oleh karenanya Alloh berfirman: “Tidak ada masalah jika kalian ingin mengharapkan kemurahan (rizki) dari Tuhan kalian”. Ayat ini turun pada mereka yang menyangka bahwa makna tawakkal adalah dengan meninggalkan berdagang dalam haji.

15. Mengajarkan pada manusia untuk mewujudkan semua amalan-amalan hati. Sungguh tiada ibadah yang tampak padanya semua atau sebagian besar amalan hati seperti dalam haji ini. Terkumpul dalam ibadah haji ini amalan ikhlas, ketulusan hati, roja’, tawakkal, zuhud, waro’, muhasabah, keyakinan… dll”

16. Mendidik manusia untuk menundukkan hati dari apa yang diingininya, selama hal itu dilarang oleh syariat. Parfum, tutup kepala, dan semua larangan ihrom haruslah ditinggalkan oleh jama’ah haji padahal hatinya menginginkannya. Ia meninggalkannya bukan karena apa-apa, tapi karena syariat melarangnya.

17. mengajarkan manusia untuk taat dengan aturan dan batasan syariat. Hal ini nampak dalam aturan miqot dan batasannya, aturan waktu melempar, aturan waktu meninggalkan arofah, dll.

18. Mengajarkan pada manusia untuk membuka pintu qiyas yang shohih. Pelajaran berharga ini, bisa kita ambil dari ucapan Umar r.a. pada penduduk negeri Irak ketika mereka mengatakan: “Sungguh dua miqot itu, tidak pas dengan jalan kami”, maka Umar r.a. mengatakan: “Ambillah tempat yang sejajar dengannya di jalan kalian” (muttafaqun alaih).

Dengan ini, seorang muslim tahu bahwa aturan syariat bukanlah aturan yang kaku, dan tak bisa dirubah sama sekali. Tapi terbuka juga dalam aturan syariat ini pintu qiyas, tentunya hal ini hanya dikhususkan bagi mereka yang memiliki syarat dan ketentuan dalam ber-ijtihad.

19. Mengajarkan pada manusia tentang rukun kedua diterimanya suatu amalan, yakni mengikuti tuntunan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Oleh karena itu, beliau menyabdakan: “Ambillah cara manasik kalian dariku!” (muttafaqun alaih). Beliau juga mengatakan dalam kesempatan lain: “Melemparlah dengan kerikil yang seperti ini!”. Begitu juga perkataan Umar r.a. pada hajar aswad: “Aku tahu, kau ini hanyalah sebuah batu, yang takkan mampu memberi manfaat atau mendatangkan bahaya, andai saja aku tidak melihat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menciummu, tentunya aku takkan menciummu” (muttafaqun alaih).

Dengan itu semua, seorang muslim akan lulus dari madrasah hajinya, dalam keadaan telah terbiasa mengikuti tuntunan Nabinya -shollallohu alaihi wasallam-, baik dalam hal yang besar, maupun yang paling kecil sekalipun.

20. Memberikan pelajaran akan mudahnya ajaran syariat, sehingga keyakinan ini bisa tertanam dalam hatinya dan terasa ringan ketika menerapkannya. Hal ini, bisa terlihat dalam amalan-amalan berikut ini:

a. Letak miqot yang menyebar dan terpisah-pisah, hingga memudahkan para jama’ah haji dalam memulai ihromnya.

b. Cara manasik haji yang bermacam-macam.

c. Adanya hukum khusus bagi para jama’ah yang lemah dan lanjut usia.

21. Mendidik manusia, agar memperhatikan adanya perbedaan diantara mereka. Sungguh tidaklah mereka berada pada derajat yang sama. Hal ini tampak pada adanya cara manasik haji yang bermacam-macam. Diantara mereka ada yang tidak mampu menunaikan hajinya, kecuali dengan cara ifrod. Diantara mereka ada yang hanya mampu melakukannya dengan qiron dan hal itu menjadi lebih mudah dan lebih utama baginya. Dan diantara mereka ada yang bisa menunaikan manasik dengan cara yang paling utama, yakni tamattu’.

Sungguh ini menunjukkan tingginya perhatian syariat pada keadaan, kemampuan, masalah, dan perbedaan mereka. Sekaligus merupakan bantahan bagi orang yang menuntut bersatunya umat dalam segala hal, baik dalam amalan maupun dalam hal kepentingannya.

22. Mengajari manusia bagaimana fikhul khilaf dalam kehidupan nyata, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:

a. Perbedaan para jama’ah dalam dalam memilih cara manasiknya.

b. Perbedaan para jama’ah dalam menjalani amalan yang dilakukan pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah.

c. Perbedaan para jama’ah dalam hal dzikir yang dibaca ketika meninggalkan Mina menuju Arofah. Sebagaimana disebutkan, para sahabat dulu ada yang bertalbiyah, ada juga yang bertakbir.

d. Perbedaan waktu bolehnya beranjak dari Muzdalifah ke Mina, melihat keadaan masing-masing, bagi yang lemah ada waktu tersendiri, dan bagi yang kuat ada waktu tersendiri.

e. Perbedaan para jama’ah dalam memilih nafar awal atau nafar tsani untuk ibadah hajinya.

f. Perbedaan para jama’ah dalam memilih menggundul atau memendekkan rambutnya ketika hendak bertahallul.

Semua contoh di atas, mengajari para jama’ah bagaimana menyikapi perbedaan dan individunya. Sungguh, tidak ada nukilan tentang timbulnya cekcok atau tuduhan antara satu sahabat dengan sahabat lainnya, karena sebab memilih cara manasik tertentu, meski pilihan mereka adalah cara manasik yang kurang utama.

23. Mengajari manusia, bahwa tidak semua yang diterangkan oleh syari’at itu mungkin dicerna oleh akal, tujuannya adalah agar syariat tetap menjadi pemegang kendali hukum di atas akal, bukan di bawahnya.

Lihatlah sebagai contoh sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Perbanyaklah haji dan umroh, karena keduanya bisa menghilangkan kefakiran sebagaimana mampunya tengku pembakar menghilangkan karatnya besi. (Diriwayatkan oleh para pengarang kitab sunan, dan dishohihkan oleh Albani)…

Padahal jika di nalar dengan akal, memperbanyak haji dan umroh itu, akan mengundang banyak kebutuhan dan tentunya akan banyak menghabiskan uang, tapi syariat malah mengatakan seperti itu. Sungguh akal tidak akan bisa menerangkan secara rasional, bahwa orang yang memperbanyak haji dan umroh akan menghilangkan kefakiran, Alloh lah yang tahu akan hakikat di balik itu semua.

Dengan ini, seorang muslim akan terdidik untuk selalu menghubungkan dirinya dengan Alloh dan ilmu-Nya, sekaligus melatihnya untuk berjiwa besar dan mau mengakui kelemahan dan kekurangannya.

24. Mengajari manusia, bahwa yang paling afdlol, adalah yang sesuai dg syariat, bukan yang lebih berat dan susah, misalnya: Memulai ihrom dari miqot, lebih utama dari pada memulainya dari tempat sebelumnya, meski itu lebih berat dan susah. Sehingga dengan ini, seorang muslim terdidik untuk memuliakan syariat dan memperhatikannya.

25. Melatih manusia, untuk terbiasa tertib dan taat aturan. Budaya tersebut bukanlah keistimewaan negeri kafir, sebaliknya itu merupakah nilai Islam yang telah kita abaikan. Nilai ini tampak dari hal-hal berikut:

a. Harusnya tertib dalam menjalani amalan-amalan Umroh.

b. Sunnahnya tertib dalam menjalankan amalan-amalan pada hari ke-10 bulan dzulhijjah.

c. Harusnya tertib ketika melempar jamarot.
Tapi yang sungguh mengherankan, di zaman kita ini, justru ketertiban itu malah dijadikan cemoohan!…

26. Mendidik manusia untuk menekan syahwatnya secara khusus, oleh karena itu akad nikah menjadi larangan saat dalam keadaan ihrom, bahkan sampai rofats[1] dan jima’ pun dilarang. Tidak diragukan, ini mendidik seorang muslim agar waspada dan hati-hati dengan syahwat ini.

27. Mendidik manusia untuk menunaikan ibadahnya sesempurna dan sebaik mungkin, oleh karena itu Alloh berfirman: “Barangsiapa yang berkewajiban haji, maka janganlah ia melakukan rofats, kefasikan, dan debat (kusir) dalam ibadah hajinya”, beliau -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda: “Haji yang mabrur itu, tiada balasan lain baginya kecuali surga” (Muttafaqun Alaih). Ini semua mendidik muslim untuk menjaga kualitas ibadahnya.

28. Mendidik manusia untuk menyesuaikan dirinya saat keadaan dan kebiasaan lingkungannya berubah. Tentunya sepanjang tahun jama’ah haji terbiasa melakukan sesuatu di negaranya, lalu ketika datang haji, ia harus memaksa dirinya untuk menyesuaikan dengan waktu dan jam yang sedang ia jalani. Inilah maksud dari arahan Umar r.a. saat mengatakan: “Prihatinlah, karena nikmat-nikmat yang ada itu tidak akan langgeng selamanya”.

29. Mendidik manusia untuk banyak berdoa. Dalam manasik haji, disunnahkan bagi muslim untuk berdoa pada Tuhannya, di kebanyakan tempat yang dikunjunginya, misalnya:

a. Saat thowaf.

b. Saat sholat sunat 2 rokaat setelah thowaf.

c. Saat minum air zamzam.

d. Saat naik ke bukit Shofa dan Marwa.

e. Saat di tengah-tengah pelaksanaan sa’i.

f. Saat Hari Arofah

g. Setelah terbit fajarnya hari nahr (tanggal 10 dzulhijjah) hingga langit menguning.

h. Setelah melempar dua jamarot, Shughro dan Wustho.

Dan tempat-tempat lainnya, itu semua mendidik seorang muslim untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhannya dalam doa dan selalu kembali pada-Nya.

30. Mendidik muslim untuk ta’abbud dengan sifat maha mendengar dan maha melihatnya Alloh ta’ala, sebagaimana madzhabnya Ahlus sunnah wal jama’ah dalam menetapkan sifat dan maknanya, ini tampak dalam hal-hal berikut ini:

a. Banyaknya bahasa yang beraneka ragam, suara yang berbeda-beda, kebutuhan yang bermacam-macam, pun begitu, Dia yang maha suci tetap mampu mendengarkan doanya ini, dan mengabulkan doanya itu, serta mengetahui seluruh bahasa mereka.

b. Dia maha tahu niat para jama’ah haji yang berbeda-beda, dan seberapa tulus dan ikhlasnya mereka, meski jumlah mereka sangat banyak.

31. Melatih manusia, untuk tidak menganggap remeh apapun yang diharamkan Alloh, oleh karena itulah dalam ibadah haji ini, ada beberapa kalimat yang diulang-ulang, diantaranya:

a. Tanah haram.

b. Bulan haram.

c. Larangan-larangan ketika sedang ihrom.

Dengan begitu seorang muslim terlatih untuk mengagungkan apa yang diharamkan oleh Alloh ta’ala dari sekian banyak sesuatu yang diharamkannya.

32. Melatih manusia untuk meneguhkan prinsip “loyal pada kaum muslimin dan berlepas diri dari kaum kafirin”. Oleh karena itulah disunnahkan dalam sholat sunat setelah thowaf untuk membaca surat alkafirun, yang didalamnya menekankan dan menuangkan dasar prinsip ini.

Termasuk diantara bukti paling nampak dari petunjuk menyelisihi kaum musyrikin adalah, beranjaknya para jama’ah haji (dari Muzdalifah) sebelum terbitnya matahari.

33. Mendidik manusia untuk tenang, tertib, dan mempraktekkan prinsip itsar (mendahulukan orang lain dalam hal duniawi). Oleh karena itulah dahulu Rosul -shollallohu alaihi wasallam- ketika meninggalkan Arofah menyabdakan: “tenang dan tenanglah”, karena saat itu merupakan momen yang biasanya rame dan memungkinkan terjadinya saling menyakiti antara kaum muslimin.

Sifat waqor dan tenang adalah sifat yang selayaknya melekat pada diri seorang muslim, sebagaimana Alloh memberikan sifat itu pada mereka dalam kitab-Nya: “yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan sopan”

34. Mendidik manusia untuk menyatukan kata, meski keadaan dan cara manasik mereka berbeda-beda. Ini merupakan dasar yang agung, dan ditunjukkan dalam banyak nash syariat dan juga tampak dari keadaan para sahabat -rodliallohu anhum-.

35. Melatih manusia untuk mengingat hari kiamat, yakni dengan banyaknya orang yang berkumpul saat itu, bahkan pada hari kiamat nanti, Alloh akan mengumpulkan manusia dari awal hingga akhir penciptaan. Tak diragukan lagi, dengan mengingat hari kiamat, hati seorang muslim akan hidup dan memiliki pengaruh besar dalam kekhusyu’an dan ibadahnya.

36. Mendidik manusia untuk memperhatikan dan menghargai waktu. Hari arofah adalah kesempatan yang tak ada gantinya bila telah hilang, hari-hari tasyriq adalah hari-hari yang diperuntukkan untuk berdzikir (mengingat Alloh), dan di 10 hari pertama bulan dzul hijjah amalan ibadah dilipat-gandakan pahalanya, itu semua melatih seorang muslim untuk memanfaatkan waktunya untuk apapun yang bermanfaat baginya.

37. Mendidik manusia untuk menjaga ukhuwwah imaniyyah, itu tampak dari bertemunya raga, yang akan menjadikan berkumpulnya hati, dan tentunya akan terlihat pengaruh pertalian persaudaraan itu dalam tingkah laku dan kehidupan sehari-hari.

38. Mengajari manusia untuk mewujudkan lahan yang riil untuk mendidik jiwa, misalnya:

a. Haji adalah tempat untuk mendidik jiwa untuk menjaga pandangan mata dari sesuatu yang diharamkan.

b. Haji adalah tempat untuk mendidik jiwa untuk itsar (mendahulukan orang lain) dalam urusan duniawi)

c. Haji adalah tempat mendidik jiwa untuk memberi bantuan dan sedekah.

d. Haji adalah tempat mendidik jiwa untuk menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Sungguh haji merupakan pusat praktek nyata dan tempat pelatihan untuk menguji kepribadian seseorang.

39. Mendidik manusia untuk membuktikan taqwanya, karena tempat ketakwaan adalah hati, dan sebagian besar amalan haji itu bertumpu pada hati dengan derajat paling tinggi, oleh karena itulah Alloh menyebutkan redaksi takwa dalam ayat-ayat haji, Alloh berfirman: “Sempurnakanlah haji dan umroh itu untuk Alloh…” di akhir ayat disebutkan: “dan bertakwalah kalian pada Alloh!”… Dia juga berfirman: “Siapkanlah bekal (untuk haji), sungguh sebaik-baik bekal adalah taqwa”.

40. Mendidik manusia agar berakhlak mulia, yang merupakan sesuatu yang paling berat dalam timbangan amal di hari kiamat nanti, hal ini tampak dari firman-Nya: “Janganlah berdebat (kusir) dalam haji!”. Maka anjuran untuk meninggalkan debat merupakan pendidikan untuk berakhlak mulia. Hal itu juga tampak pada anjuran Nabi -shollallohu alaihi wasallam- kepada para sahabatnya untuk tetap tenang ketika meninggalkan Arofah.

41. Mendidik manusia untuk mencintai seluruh Nabi -alaihimus salam-, hal ini tampak dari:

Pemenuhan panggilannya Nabi Ibrohim ketika memanggil manusia untuk haji.

Menziarahi ka’bah yang dibangun olehnya bersama Ismail.

Dan sa’i di jalannya siti hajar ketika mencarikan air untuk Isma’il.

42. Mendidik manusia untuk menjalankan macam-macam ibadah, seperti: Thowaf, sa’i, sholat, mabit, melempar, menyembelih, menggundul, dll. Sehingga seorang muslim terdidik untuk tidak hanya terpaku dalam satu macam ibadah saja, tapi menjadikan agar ibadahnya bervariasi dan merasakan nikmatnya melakukan ibadah.

43. Mendidik manusia untuk mengagungkan Alloh, hal ini tampak dalam beberapa hal berikut:

a. Kepala yang di… dan digundul untuk mendekatkan diri dan bersimpuh kepada Alloh.

b. Hadyu yang disembelih untuk beribadah pada-Nya, dialirkan darahnya karena wajah-Nya, dan nama-Nya juga disebut ketika menyembelihnya.

44. Mendidik manusia untuk mencintai Alloh. Siapapun yang mau merenungi pemandangan jama’ah haji yang mencapai jutaan, dan merenungi bagaimana Alloh memberi mereka rizki, mengatur, menjaga, dan menanggung kebutuhan mereka, ini akan menuntunnya untuk mencintai-Nya. Dengan ini dan poin sebelum ini, akan terkumpul kecintaan dan pengagungan pada Alloh, dan inilah hakekat dari ibadah.

45. Mendidik manusia untuk mengetahui jasa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan para sahabatnya -rodliallohu anhum- dalam menyebarkan agama ke seluruh penjuru dunia. Ketika anda merenungi jumlah jama’ah haji yang sangat besar itu, mereka memiliki daerah, warna, dan bahasa yang beragam, tentu anda akan tahu jasa para pendahulu dalam menyebarkan agama Alloh ini. Lihatlah bagaimana ia bisa sampai ke negara-negara Asia Timur, Afrika, bahkan Eropa. Semoga Alloh membalas mereka dengan balasan yang paling baik atas tugas berat yang diembannya dengan sebaik-baiknya, dan semoga Alloh memgampuni kita atas kekurangan kita dalam meneruskannya, dan kita memohon kepada Alloh agar membantu kita dalam urusan ini.

46. Mendidik manusia untuk berusaha membuat jengkel kaum musyrikin, dengan cara apapun, oleh karena itulah beliau -shollallohu alaihi wasallam- menyariatkan roml ketika thowaf hanya untuk membuat jengkel kaum musyrikin saja, yakni saat mereka mengata-ngatai kaum muslimin ketika datang ke Mekah: “Mereka itu mendatangi kalian, dalam keadaan telah dilemahkan oleh Humma Yatsrib“.

47. Mendidik manusia agar merasakan pengaruh ibadah dalam kehidupan ini. Meski dengan banyaknya jama’ah haji, adanya keramaian, berdesakan, berat, dan lelah, tetap saja jiwa orang-orang itu lembut, dan jarang terjadi masalah, suara tinggi, dan saling marah. Sebabnya adalah -wallohu a’lam-, karena ibadah yang sedang mereka lakukan, mempengaruhi keadaan jiwa mereka, hingga merubahnya menjadi jiwa yang tinggi, yang tidak peduli dengan hal-hal yang remeh.

Beda halnya dengan pemandangan di pasar misalnya, banyak sekali terjadi jeritan, dan suara yang tinggi, banyak pula terjadi masalah dan hal-hal buruk lainnya. Itu semua memberikan pelajaran berharga bagi seorang muslim, tentang adanya perbedaan yang jelas terlihat antara dua keadaan itu.

48. Mendidik manusia untuk selalu sadar tanggung jawab. Ketika terjadi kesalahan dari para jama’ah haji -kadang sebagian kesalahannya dalam hal-hal yang diperkirakan semua orang tahu bahwa itu salah-, ini mendidik muslim untuk sadar tanggung-jawab yang dibebankan di pundaknya untuk memberitahu saudaranya, menyodorkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, dan menghilangkan kebodohan yang ada pada mereka. Penulis yakin inilah yang bisa memberi manfaat, bukan malah mencemooh atau menuduh yang bukan-bukan pada mereka yang salah.

49. Melatih manusia untuk berjihad, dengan adanya masyaqqoh, lelah, dan keinginan hati  yang tak dituruti. Oleh karena itulah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menamainya jihad, sebagaimana dalam sabdanya: “Bagi kalian (para wanita) ada jihad yang tanpa perang, yaitu haji dan umroh” (HR. Bukhori)

50. Mendidik manusia untuk bangga dengan agama dan keislamanya. Ini tampak dari keadaan setan di Hari Arofah, telah disebutkan dalam kitab Al-Muwaththo’ karya Imam Malik, bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: “Tiada suatu haripun, yang saat itu setan terlihat paling kerdil, paling hina, dan paling marah, melebihi Hari Arofah” (dihasankan oleh Ibnu Abdil Barr -rohimahulloh-). Hal ini juga tampak dari bagaimana Alloh membangga-banggakan hambanya yang sedang wukuf di Arofah di hadapan para malaikat, sebagaimana disebutkan dalam shohih muslim.

Baca Artikel Lainnya : TANDA-TANDA HAJI MABRUR

 

saco-indonesia.com, Setelah sempat hanya menjadi penghuni papan tengah dalam beberapa tahun terakhir, musim ini Liverpool akan b

saco-indonesia.com, Setelah sempat hanya menjadi penghuni papan tengah dalam beberapa tahun terakhir, musim ini Liverpool akan bangkit dan berhasil dalam menunjukkan performa terbaik mereka. The Reds saat ini telah memuncaki klasemen Premier League berkat keunggulan selisih gol atas Arsenal.

Terkait pergeseran peta kekuatan di papan atas, fullback Glen Johnson telah mengemukakan alasannya. Ia juga menyatakan bahwa pergantian manajer yang telah dilakukan oleh sejumlah penghuni big four telah menciptakan keuntungan tersendiri yang mampu dimanfaatkan oleh Liverpool.

"Biasanya ketika klub telah mendapatkan manajer baru, musim pertama berjalan tidak sesuai dengan keinginan mereka. Baru pada musim kedua segalanya akan terasa lebih baik," ungkap pemain 29 tahun ini.

"Musim ini adalah masa transisi bagi banyak tim, jadi kami telah memiliki keuntungan persiapan tersendiri. Jika kami akan tetap fokus dalam menjalani laga demi laga, Liverpool bisa menjadi sangat berbahaya."

Jika melihat pada urutan klasemen, perkataan Johnson memang benar adanya. Dua tim teratas saat ini, Liverpool dan Arsenal, adalah tim yang tidak bisa melakukan pergantian manajer. Lain halnya dengan sejumlah tim big four musim lalu seperti Manchester United, Manchester City, dan Chelsea yang semuanya telah ditangani manajer anyar.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Pemilihan Dan Pengolahan Tanah Batu bata juga merupakan salah satu bahan dasar dalam proses membuat te

saco-indonesia.com,

Pemilihan Dan Pengolahan Tanah

Batu bata juga merupakan salah satu bahan dasar dalam proses membuat tembok rumah atau bangunan lain yang telah banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Permintaan batu bata terus akan meningkat seiring dengan banyaknya masyarakat yang ingin membangun maupun merenofasi rumahnya. Untuk itu, proses pembuatan batu bata juga dapat member peluang bisnis yang sangat menjanjikan.

Agar dapat mencapai kesuksesan, maka perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut;

Memilih Tanah Yang Tepat

Hampir semua jenis tanah dapat digunakan sebagai bahan pembuatan batu bata kecuali tanah yang telah mengandung pasir atau kapur. Tanah yang mengandung pasir atau kapur akan dapat membuat batu bata mudah pecah.

Sedangkan untuk dapat menegtahui tanah itu cocok untuk proses pembuatan batu bata, maka ada cara untuk dapat mengetahuinya.

Pertama, ambil tanah tersebut, campur dengan air, kemudian diaduk hingga rata. Setelah itu diinjak-injak hingga lumat dan buang kerikil maupun kotoran yang ada. Setelah lumat, tanah direndam selama sehari semalam dan jangan sampe terkena panas matahri. Jika tanah tersebut tidak merekah, berarti tanah tersebut baik untuk bahan batu bata.

Kedua, tanah tersebut dikeringkan dan di bakar, jika berwarna merah menyala saat dibakar, maka bahan tersebut sangat baik untuk proses pembuatan batu bata.

Pengolahan Tanah

Sebelum tanah diolah sebagai bahan pembuatan batu bata, tanah tersebut harus dibuat gumpalan-gumpalan dan dijemur hingga kering. Kemudian tanah dimasukan ke dalam bak pengolahan tanah sebagai bahan pembuatan batu bata. Bak tersebut tidak memiliki ukuran yang baku, hanya disesuaikan dengan kebutuhan. Di bagian dasar bak tersebut diberi sekam padi secukupnya.

Tanah yang sudah dimasukan dalam bak pengolahan, kemudian diisi air hingga penuh. Diamkan selama 2 jam agar tanah terbasahi oleh air sepenuhnya. Kemudian tanah diaduk hingga rata dan diinjak-injak hingga telah menjadi halus. Sampah yang ada dalam tanah tersebut juga harus dibuang agar hasilnya bagus.

Saat mengaduk, ada baiknya dicampur dengan abu dapur atau sekam padi agar tanah tersebut semakin merekat. Setelah tanah benar-benar halus (lumat), tanah tersebut dibiarkab selama 12 jam agar tanah menjadi liat.


Editor : Dian Sukmawati

Jepun Bali Car Rental adalah penyedia jasa sewa mobil murah terbaik di Bali. Spesialisasi kami adalah untuk menyediakan pelayana

Jepun Bali Car Rental adalah penyedia jasa sewa mobil murah terbaik di Bali. Spesialisasi kami adalah untuk menyediakan pelayanan transportasi sewa mobil dengan sistem point-to-point Airport, Hotel, dan personal atau group transportasi, baik dalam rangka perjalanan wisata ataupun untuk tujuan Bisinis di Bali.
Supir-supir profesional kami dari Jepun Bali car Rental dengan senang hati akan mengantarkan anda ke tujuan untuk berbagai kerperluan seperti executive meeting, outing perusahaan, atau pun untuk berwisata.
Jepun Bali Car Rental dengan cepat membangun reputasinya dalam bidang usaha transportasi khususnya dalam bidang sewa mobil di Bali. Anda dapat menghubungi kami melalui telephone ataupun e-mail untuk mengalami komitmen kami untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik, dan anda pun akan mengerti mengapa client-client kami mempercayakan pilihannya kepada kami dalam hal jasa transportasi sewa mobil di Bali.
Jepun Bali Car Rental sangat mengerti bahwa waktu dari client kami adalah hal yang sangat penting. Sebagai penyedia sarana transportasi sewa mobil profesional di Bali, team kami akan memastikan anda akan sampai ke tujuan dengan nyaman, aman dan tepat waktu.

Sebagai penyedia sarana transportasi sewa mobil, Jepun Bali Car Rental menawarkan jenis-jenis pelayanan sebagai berikut :

    Pelayanan penjeputan dan pengembalian mobil di Airport ataupun Hotel
    Sewa mobil untuk di kemudikan sendiri (tanpa supir)
    Jasa sewa mobil dalam jangka waktu pendek dan panjang
    Paket sewa mobil untuk personal atau group
    Pembebasan biaya atas pengantaran dan pengembalian mobil yang di sewa
    Jasa sewa mobil dengan supir yang profesional dan berpengalaman dalam jasa layanan transportasi personal dan eksekutif
    Charter Bus Pariwisata

Mengapa memilih jasa sewa mobil dari Jepun Bali Car Rental ?

    Jepun Bali Car Rental adalah mitra anda yang dapat dipercaya
    Kepuasan anda adalah prioritas utama dari Jepun Bali Car Rental
    Jepun Bali Car Rental memberikan pelayanan yang aman dan terjamin
    Jepun Bali Car Rental selalu menyediakan model mobil - mobil terbaru dengan kondisi mobil yang terawat secara teratur
    Jepun Bali Car Rental menyediakan fasilitas mobil pengganti apabila terjadi kerusakan atau kecelakaan
    Mobil-mobil yang kami sewakan telah di asuransikan
    Jepun Bali Car Rental telah terdaftar di institusi publik

 

saco-indonesia.com, Jual Notebook Murah Banyak dari penjual notebook, atau laptop yang juga mengatakan jual notebook murah

saco-indonesia.com,

Jual Notebook Murah

Banyak dari penjual notebook, atau laptop yang juga mengatakan jual notebook murah, itu juga memang benar karena pastinya para penjual itu juga punya alasan tersendiri, sehingga berani menjual notebook nya dengan harga yang murah. salah satunya alasan para penjual notebook dengan harga murah itu karena para penjual itu adalah distributornya sendiri, sehingga berani untuk menjual notebooknya dengan harga distributor.

Dan fgc rentalindo adalah salah satu distributor yang telah menjual notebooknya dengan harga distributor. Selain itu notebook murah ini juga tergantung dari kualitas dan merk, untuk itu fgc rentalindo telah menjual dan menyewakan laptop dan notebook dengan harga yang terjangkau. dan bisa di bilang lebih murah.

Adapun komputer dan laptop harga murah dari berbagai merk seperti Acer, Toshiba dan Asus,tipe ultrabook dan gaming.


Editor : Dian Sukmawati

Ms. Turner and her twin sister founded the Love Kitchen in 1986 in a church basement in Knoxville, Tenn., and it continues to provide clothing and meals.

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

Ms. Pryor, who served more than two decades in the State Department, was the author of well-regarded biographies of the founder of the American Red Cross and the Confederate commander.

From sea to shining sea, or at least from one side of the Hudson to the other, politicians you have barely heard of are being accused of wrongdoing. There were so many court proceedings involving public officials on Monday that it was hard to keep up.

In Newark, two underlings of Gov. Chris Christie were arraigned on charges that they were in on the truly deranged plot to block traffic leading onto the George Washington Bridge.

Ten miles away, in Lower Manhattan, Dean G. Skelos, the leader of the New York State Senate, and his son, Adam B. Skelos, were arrested by the Federal Bureau of Investigation on accusations of far more conventional political larceny, involving a job with a sewer company for the son and commissions on title insurance and bond work.

The younger man managed to receive a 150 percent pay increase from the sewer company even though, as he said on tape, he “literally knew nothing about water or, you know, any of that stuff,” according to a criminal complaint the United States attorney’s office filed.

The success of Adam Skelos, 32, was attributed by prosecutors to his father’s influence as the leader of the Senate and as a potentate among state Republicans. The indictment can also be read as one of those unfailingly sad tales of a father who cannot stop indulging a grown son. The senator himself is not alleged to have profited from the schemes, except by being relieved of the burden of underwriting Adam.

The bridge traffic caper is its own species of crazy; what distinguishes the charges against the two Skeloses is the apparent absence of a survival instinct. It is one thing not to know anything about water or that stuff. More remarkable, if true, is the fact that the sewer machinations continued even after the former New York Assembly speaker, Sheldon Silver, was charged in January with taking bribes disguised as fees.

It was by then common gossip in political and news media circles that Senator Skelos, a Republican, the counterpart in the Senate to Mr. Silver, a Democrat, in the Assembly, could be next in line for the criminal dock. “Stay tuned,” the United States attorney, Preet Bharara said, leaving not much to the imagination.

Even though the cat had been unmistakably belled, Skelos father and son continued to talk about how to advance the interests of the sewer company, though the son did begin to use a burner cellphone, the kind people pay for in cash, with no traceable contracts.

That was indeed prudent, as prosecutors had been wiretapping the cellphones of both men. But it would seem that the burner was of limited value, because by then the prosecutors had managed to secure the help of a business executive who agreed to record calls with the Skeloses. It would further seem that the business executive was more attentive to the perils of pending investigations than the politician.

Through the end of the New York State budget negotiations in March, the hopes of the younger Skelos rested on his father’s ability to devise legislation that would benefit the sewer company. That did not pan out. But Senator Skelos did boast that he had haggled with Gov. Andrew M. Cuomo, a Democrat, in a successful effort to raise a $150 million allocation for Long Island to $550 million, for what the budget called “transformative economic development projects.” It included money for the kind of work done by the sewer company.

The lawyer for Adam Skelos said he was not guilty and would win in court. Senator Skelos issued a ringing declaration that he was unequivocally innocent.

THIS was also the approach taken in New Jersey by Bill Baroni, a man of great presence and eloquence who stopped outside the federal courthouse to note that he had taken risks as a Republican by bucking his party to support paid family leave, medical marijuana and marriage equality. “I would never risk my career, my job, my reputation for something like this,” Mr. Baroni said. “I am an innocent man.”

The lawyer for his co-defendant, Bridget Anne Kelly, the former deputy chief of staff to Mr. Christie, a Republican, said that she would strongly rebut the charges.

Perhaps they had nothing to do with the lane closings. But neither Mr. Baroni nor Ms. Kelly addressed the question of why they did not return repeated calls from the mayor of Fort Lee, N.J., begging them to stop the traffic tie-ups, over three days.

That silence was a low moment. But perhaps New York hit bottom faster. Senator Skelos, the prosecutors charged, arranged to meet Long Island politicians at the wake of Wenjian Liu, a New York City police officer shot dead in December, to press for payments to the company employing his son.

Sometimes it seems as though for some people, the only thing to be ashamed of is shame itself.

Frontline  An installment of this PBS program looks at the effects of Ebola on Liberia and other countries, as well as the origins of the outbreak.
Frontline

Frontline An installment of this PBS program looks at the effects of Ebola on Liberia and other countries, as well as the origins of the outbreak.

The program traces the outbreak to its origin, thought to be a tree full of bats in Guinea.

Review: ‘9-Man’ Is More Than a Game for Chinese-Americans

A variation of volleyball with nine men on each side is profiled Tuesday night on the World Channel in an absorbing documentary called “9-Man.”

Television

‘Hard Earned’ Documents the Plight of the Working Poor

“Hard Earned,” an Al Jazeera America series, follows five working-class families scrambling to stay ahead on limited incomes.

The bottle Mr. Sokolin famously broke was a 1787 Château Margaux, which was said to have belonged to Thomas Jefferson. Mr. Sokolin had been hoping to sell it for $519,750.

Mr. Paczynski was one of the concentration camp’s longest surviving inmates and served as the personal barber to its Nazi commandant Rudolf Höss.

As governor, Mr. Walker alienated Republicans and his fellow Democrats, particularly the Democratic powerhouse Richard J. Daley, the mayor of Chicago.